*~ soal-jawab ~*

SOAL- JAWAB :

  1. Menurut anda, jenis karya sastra apa yang paling diminati oleh anak?

Jawab :

  1. Puisi  anak :

Puisi anak adalah puisi untuk dikonsumsi anak, yang isinya sesuai dengan lingkungan anak, usia anak dan memiliki nilai-nilai yang dapat membentuk sikap, budi pekerti yang luhur, serta memiliki nilai seni.

  1. Drama anak :

Drama anak-anak adalah proses lakuan anak sebagai tokoh. Dalam berperan, mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang, menggunakan atau memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter dan situasi dalam suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan peristiwa dan rangkaian cerita tertentu

  1. Cerita anak-anak :

cerita anak-anak merupakan cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat yang wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, sehingga cerita anak-anak harus berbicara  tentang kehidupan anak-anak.

Adapun jenis-jenis cerita anak yang cocok untuk SD adalah :

  • Cerita Jenaka :

Cerita jenaka merupakan cerita yang mengungkapkan hal ihwal atau tingkah laku seorang tokoh yang lucu. Kelucuan yang diungkapkan dapat berupa karena kebodohan sang tokoh atau pula karena kecerdikannya.

  • Dongeng :

Dongeng adalah cerita yang didasari atas angan-angan atau khayalan. Dalam dongeng terkandung cerita yang menggambarkan sesuatu diluar nyata, seperti Timun Mas, Putri Salju, Peri yang baik hati, dan sebagainya.

  • Fable :

Fabel adalah cerita yang menampilkan hewan-hewan sebagai tokoh-tokohnya. Di dalam fabel, para hewan atau binatang digambarkan sebagaimana layaknya manusia yang dapat berpikir, bereeksi dan berbicara. Fabel mengandung unsur mendidik karena diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral. Misalnya, “ Kancil dan Kera “, “ Kancil dan Buaya”.

  • Legenda :

Legenda adalah cerita yang berasal dari zaman dahulu. Cerita legenda bertalian dengan sejarah yang sesuai dengan kenyataan yang ada pada alam atau cerita tentang terjadinya suatu negeri, danau atau gunung. Contoh cerita “Malin Kundang”, “Batu Menangis”, Sangkuriang”, “asal Usul Kota Surabaya”

  • Mie atau mitos :

Mite atau mitos merupakan cerita yang berkaitan dengan kepercayaan kuno, menyangkut kehidupan dewa-dewa atau kehidupan makhluk halus. Mitos adalah cerita yang mengandung unsur-unsur misteri, dunia gaib, dan alam dewa.

  1. Sebutkan aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan cerita?

Jawab :

  1. Kejelasan  bahasa :

Yang dipilih harus menggunakan bahasa yang sederhana, lugas. Kalimatnya pendek-pendek, tidak rumit sehingga memudahkan siswa menangkap isinya. Kata-kata yang digunakan bermakna lugas.  Kejelasan bahasa memungkinkan siswa mudah menemukan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.

  1. Kejelasan tema :

Yang dipilih harus mempunyai tema yang terbuka. Artinya, tema dapat ditemukan dengan langsung oleh siswa.

  1. Kesederhanaan plot :

Yang dipilih harus mempunyai plot maju. Maksudnya, rangkaian peristiwa yang membentuk isi cerita tersusun secara kronologis dari awal hingga akhir. Cerita dengan plot maju memungkinkan siswa terkandung dalam cerita itupun mudah ditangkap oleh siswa.

  1. Kejelasan perwatakan :

Perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita yang diplih harus terdeskripsi secara sederhana sehingga siswa dapat dengan mudah dan cepat mengenali tokoh-tokoh itu. Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam cerita itu pun mudahn ditangkap oleh siswa.

  1. Kesederhanaan latar :

Latar atau setting  dalam cerita yang dipilih harus tidak berbeda jauh dengan lingkungan tempat tinggal siswa sehingga mereka merasa akrab dengan suasana dalam cerita itu.

  1. Kejelasan pusat pengisahan :

Pusat pengisahan dalam cerita yang dipilih harus konsisten. Artinya, jangan terlalu banyak terjadi pergantian fokus. Seringnya terjadi pergantian fokus menyulitkan siswa mengikuti jalan ceritnya.

  1. Tuliskan pengertian di bawah ini:

Jawab :

  1. Alur cerita :

ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

  1. Tema :

adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.

  1. Penokohan :

adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita

  1. Latar  :

adalah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi

  1. Bagaimana cara menumbuhkan kemampuan anak SD memahami kasya sastra ?

Jawab :

Cara menumbuhkan kemampuan anak SD untuk memahami karya sastra adalah dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi dalam berbagai jenis karya sastra yang mereka sukai walaupun sebagaimana kita ketahui anak SD  belum mengetahui atau memahami secara utuh bagaimana jenis – jenis karya sastra tersebut. Ajarkan sastra itu seperti sebuah kebebasan, tidak ada tekanan, anak bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Guru juga perlu mengetahui bagaimana karakteristik, ciri khas dan kemampuan yg dimiliki peserta didiknya serta mengembangkan sesuai tahapan usianya. Selain itu, guru harus mencoba memberikan pelajaran – pelajaran  baru tentang sastra yg sesuai dengan bakat dan minat serta menganggap siswa sebagai anak dan sahabat yang dapat menerima segala keluhan – keluhannya.

  1. Tuliskan dan jelaskan tahapan tingkat perkembangan kognitif anak ditinjau dari sudut pandang psikologis

Jawab :

Ditinjau dari sudut pandang psikologis anak ( intelektual anak), tahap perkembangan kognitif anak terdiri dari empat (4) tahapan , yaitu :

  1. Tahap 1: Periode Sensorimotor (sejak kelahiran sampai usia 2 tahun) dicirikan dengan fase interkoordinasi progresif dari skema menjadi lebih komplek dan terintegrasi. Pada fase pertama, respon-respon bersifat bawaan dan berupa refleks-refleks yang tidak disengaja, seperti misalnya menghisap. Pada fase selanjutnya, skema-skema refleks mulai terkontrol secara sadar. Dengan demikian pada fase ini anak sudah mulai bisa membangun pikirannya tentang bagaimana lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor.
  2. Tahap 2: periode pra-operasional (usia 2-7 tahun), perilaku anak berubah dari depedensi tindakan menuju pemanfaatan representasi mental dalam tindakan-tindakannya atau yang bisa disebut berfikir. Namun anak pada tahap pra-operasional belum mengembangkan sistem organisasi pikiran-pikirannya. Ketika kita berada di sekitar mereka dan mereka tidak melihat kita, mereka tidak berfikir bahwa kita dapat melihat mereka. Ini adalah contoh klasik egosentrisme anak pada tahap ini.
  3. Tahap 3: periode operasional konkret (usia 7-11 tahun) adalah tahap penyempurnaan tiga ranah penting dalam pertumbuhan intelektual, yaitu: konservasi, klasivikasi, dan transivias. Konservasi, ranah pertama, adalah kemampuan untuk mentransformasikan sifat objek. Klasifikasi melibatkan pengelompokan dan kategorisasi objek-objek yang mirip. Transitivitas adalah dua kemampuan yang terpisah namun berhubungan.
  4. Tahap 4 : periode tahap Operasional Formal (12-dewasa)

Sekitar usia 12, anak-anak masuk ke tahap baru lebih tinggi kognisi. Pikiran remaja yang sudah mampu memanipulasi representasi mental yang kompleks. Orang dewasa muda menjadi mampu berpikir dalam abstraksi-menggunakan ide-ide, bukan hanya beton benda-cara yang sebelumnya menghindari pegang mereka. Mereka dapat alasan tentang situasi hipotetis dengan presisi dan realisme.

  1. Tuliskan dan jelaskan enam fase dalam perkembangan moral anak!

Jawab :

Ada enam Fase Moral Menurut Kohlberg :

1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

2. Orientasi minat pribadi

3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas

4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial

5. Orientasi kontrak sosial

6. Prinsip etika universal

Dimana, keenam tingkatan tersebut dibagi kedalam 3 tahapan yaitu :

  1. Tahap Pra – Konvensional

Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung.

  1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.
2. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?)

Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

  1. Tahap Konvensional

Pada tahap tiga, orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (sikap anak baik)
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

Pada tahap empat berorientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan). Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

  1. Tahap Pasca – Konvensional

Tahap ke- lima orientasi kontrak sosial, dalam tahap ini, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut – ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak’? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
Prinsip etika universal ( Principled conscience), dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

  1. Kemampuan anak memahami karya sastra juga sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan kemampuan berbahasanya. Menurut anda benarkah itu?

Jawab :

Ya, perkembangan berbahasa anak sangat penting dalam upaya mengembangkan kemampuan apresiasi sastra anak maupun pengalaman bersastra pada anak, karena dengan adanya perkembangan bahasa, seorang anak dapat mengenal dan mengetahui bagaimana bunyi – bunyi kabahasaan, memahami kata – kata , maupun kalimat dari sebuah karya sastra. Karena dengan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan dan memahami bagaimana isi atau makna yang terkandung dalam sutu karya tersebut. Melalui bahasa seorang anak dapat tahu bagaimana simbolis perasaan pengarang atau seorang sastrawan yang tercantum dalam karya sastra yang ia ciptakan. Intinya dengan kemampuan perkembangan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan apa yang ia rasakan pada suatu karya sastra.

SOAL JAWAB

 

SOAL :

  1. Tuliskan pengertian puisi anak !
  2. Tuliskan hakikat dan karakteristik puisi anak !
  3. Apa yang dimaksud pembacaan puisi sebagai kegiatan reseptif dan produktif ?
  4. Menurut anda, apa perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak ?
  5. Tuliskan ciri-ciri puisi anak !

JAWABAN :

  1. Pengertian puisi anak adalah puisi yang ditulis untuk anak dengan bahasa lugas dan mudah dipahami anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak serta akrab dengan dunia anak-anak
  2. Hakikat dan karakteristik puisi anak adalah puisi anak umumnya masih menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu, kata-kata itu juga dirangkai masih seperti struktur asli kalimat.
  3. Membaca puisi disebut sebagai kegiatan reseptif bila pembaca bermaksud memahami makna dan menikmati keindahan sebuah puisi untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, kegiatan membaca puisi disebut sebagai kegiatan produktif bila pembaca mencoba untuk mengkomunikasikan isi puisi (yang dibaca) kepada sejumlah penikmat yang sebagian besar tidak atau belum akrab dengan puisi tersebut.
  4. Perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak adalah puisi anak adalah puisi yang mengacu kepada dunia anak yang berisi tentang kehidupan yang dekat dengan anak seperti dunia bermain, imajinasi yang disesuaikan dengan tingkat pemikiran mereka yang masih sederhana dan bahasa yang digunakan adalah biasanya sederhana dan tidak rumit. Sedangkan puisi remaja dan dewasa hampir sama karena isinya berisi tentang kehidupan yang lebih luas misalnya dunia kerja, dunia kuliah, bahkan dunia malam, karena rasanya tidak etis jika puisi anak berisi tentang kehidupan malam disamping itu bahasa yang digunakan dalam puisi remaja maupun dewasa adalah lazim memakai banyak istilah jika diperlukan yang memperkuat kesan cerita.
  5. Ciri-ciri puisi anak adalah :

ü  Puisi anak adalah puisi yang berisi kegembiraan.

ü  Mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan semangat bermain bahasa.

ü  Harus berupaya memperbaiki ketajaman imajinasi visual dan kata yang dipergunakan mengmbangkan imajinasi, dan melihat serta mendengar kata-kata dalam cara baru.

ü  Menyajikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan sehari-hari.

ü  Ditulis berdasarkan pengalaman anak.

ü  Berbentuk informasi sederhana yang membuat anak dapat menafsir dan menangkap sesuatu dari puisi itu.

ü  Tema puisi harus menyenangkan anak-anak, menyatakan sesuatu kepada anak, menggelitik egonya, mengingat kebahagiaan, menyentuh kejenakaan dan membangkitkan semangat pribadi anak-anak.

ü  Dapat dibaca anak-anak dan mudah dimengerti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s