Archive | Mei 22, 2012

Evaluasi Pengajaran Berbicara

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     LATAR BELAKANG

      

      Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar siswa, perlu dilakukan suatu penilaian terhadap hasil belajar yang telah dilaksanakan baik melalui tes maupun nontes. Penilaian dilakukan tidak hanya untuk menilai hasil belajar siswa melainkan juga menilai proses belajar siswa. Dalam melakukan evaluasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru terutama yang berhubungan dengan taksonomi tujuan pengajaran, teknik evaluasi, jenis tes yang akan digunakan, dan tujuan evaluasi yang dilakukan. Dengan demikian, evaluasi yang dilakukan menjadi terarah dan terencana. 

 

      Kegiatan yang  dilakukan seorang guru dalam mengevaluasi hasil pengajaran  yaitu, mengetahui (1) keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan; (2) kemampuan dan daya serap peserta didik terhadap materi yang telah dibelajarkan; dan (3) informasi yang sangat berharga sebagai balikan (feedback) bagi guru dalam memperbaiki kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Untuk dapat melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan benar, terlebih dahulu guru harus memahami terminologi evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan suatu formula atau skala tertentu yang sesuai dan bersifat kuantitatif.

 

       Seperti yang kita ketahui Keberhasilan pembelajaran merupakan suatu kondisi yang diperoleh dari suatu upaya guru dalam berusaha membelajarkan peserta didik, sedangkan peserta didik berupaya menguasai kompetensi yang telah dibelajarkan. Upaya pendidik dan peserta didik ini akan diketahui dari kondisi keberhasilan pembelajaran, sehingga akan diperoleh informasi seberapa efektif dan efisien kegiatan pembelajaran telah dilakukan bersama antara pendidik dengan peserta didik.

Kemampuan dan daya serap peserta didik merupakan suatu kondisi yang dimiliki peserta didik dalam menguasai seperangkat materi atau seperangkat kompetensi yang dengan sengaja dibelajarkan. Kondisi ini dapat diketahui dari evaluasi terhadap upaya pembelajaran yang sedang atau telah dilakukan guru.

        Dari suatu evaluasi pembelajaran akan diperoleh informasi yang sangat berharga, sebagai balikan (feedback) atau backwash dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Dari data hasil penilaian akan diperoleh informasi bagian materi atau kompetensi yang pada umumnya belum dikuasai oleh peserta didik. Dari data yang ada juga dapat diketahui informasi tentang kehandalan metode, teknik atau media yang digunakan dalam pembelajaran. Apabila data-data tersebut diberi makna oleh guru maka akan dapat memperbaiki kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya. Selain itu, informasi ini berarti pula bagi peserta didik dalam merespon kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

      

       Dalam makalah ini, kami memfokuskan dalam evaluasi pengajaran berbicara, dimana yang disajikan adalah hakekat, tujuan, fungsi, tehnik dan aspek – aspek yang dinilai dalam evaluasi pengajaran berbicara.

 

  1. B.     RUMUSAN MASALAH

        Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang terjadi ;

 

  1. Bagaimana hakekat dari evaluasi pengajaran berbicara
  2. Bagaimana tujuan dan fungsi dari evaluasi pengajaran berbicara
  3. Bagaimana tehnik yang digunakan dalam evaluasi pengajaran berbicara
  4. Bagaiman aspek – aspek yang dinilai dalam evaluasi pengajaran berbicara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     HAKEKAT  EVALUASI PENGAJARAN BERBICARA

 

     Sebelum kita membahas tentang evaluasi pengajaran berbicara, terlebih dahulu kita harus mengetahui makna / hakekat dari evaluasi pengajaran berbicara itu sendiri. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.  Evaluasi pegajaran hakekatnya adalah suatu proses  membuat keputusan tentang nilai suatu objek. Keputusan penilaian (value judgement) tidak hanya didasarkan kepada hasil pengukuran (quantitative description), dapat pula didasarkan kepada hasil pengamatan (qualitative description). Yang didasarkan kepada hasil pengukuran (measurement) dan bukan di dasarkan kepada hasil pengukuran (non-measurement) pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang suatu objek yang dinilai. Dari makna evaluasi pengajaran di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pengajaran berbicara adalah kegiatan memberikan penilaian terhadap proses pengajaran / pembelajaran berbicara pada suatu pembahsan pokok sesuai dngan Kompetensi Dasar (KD) yang diharapkan.  Jadi, Tes yang dapat difungsikan untuk mengukur kemampuan berkomunikasi lisan serta faktor – faktor lain yang terdapat di dalamnya ( seperti; tujuan, konteks, dsb )

 

  1. B.     TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENGAJARAN BERBICARA

 

     Tujuan utama evaluasi pengajaran berbicara adalah  sebagai sejumlah informasi atau data tentang jasa, nilai atau manfaat kegiatan pengajaran berbicara yang dilaksanakan di dalam proses belajara mengajar. Sejumlah informasi atau data yang diperoleh melalui evaluasi pengajaran inilah yang kemudian difungsikan dan ditujukan untuk pengembangan pembelajaran dan akreditasi. Evaluasi pengajaran memilki berbagai tujuan diantaranya :

 

  1. Menentukan angka kemajuan atau hasil belajar pada siswa. Berfungsi sebagai :a. Laporan kepada orang tua / wali siswa.b. Penentuan kenaikan kelasc. Penentuan kelulusan siswa.
  2.  Penempatan siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi dengan tingkat kemampuan, minat dan berbagai karakteristik yang dimiliki
  3.  Mengenal latar belakang siswa (psikologis, fisik dan lingkungan) yang berguna baik bagi penempatan maupun penentuan sebab-sebab kesulitan belajar para siswa, yakni berfungsi sebagai masukan bagi tugas Bimbingan dan Penyuluhan (BP).
  4. Sebagai umpan balik bagi guru, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan program remdial bagi siswa.

 

       Adapun fungsi dari evaluasi pengajaran berbicara antara lain ;

 

  1. secara psikologis, peserta didik perlu mengetahui prestasi belajarnya, sehingga ia merasakan kepuasan dan  ketenangan.
  2.  secara sosiologis, untuk mengetahui apakah peserta
    didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti
    dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan seluruh lapisan masyarakat
    dengan segala karakteristiknya
  3. secara didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu  sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing,
  4. untuk mengetahui kedudukan peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang atau kurang.
  5. untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh
    program pendidikannya,
  6. untuk membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan maupun kenaikan tingkat/kelas,
  7.  secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada pemerintah, pimpinan/kepala sekolah, guru/instruktur, termasuk peserta didik itu sendiri.

Sedangkan manfaat evaluasi pengajaran berbicara adalah :

a)      Menemukan karakteristik berbicara siswa(kesalahan berbicara, dsb.)

b)      Menentukan langkah lanjutan berdasarkanhasil evaluasi berbicara

c)      Siswa dapat berbicara kreatif secara baik

 

  1. C.     PRINSIP – PRINSIP EVALUASI PENGAJARAN BERBICARA

 

        Dalam  evaluasi  pengajaran berbicara diperlukan prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih efektif. Prinsip-prinsip itu antara lain:

  1. Kepastian dan Kejelasan ‘

           Dalam proses evaluasi, kepastian dan kejelasan yang akan dievaluasi menduduki urutan pertama. Evaluasi akan dapat dilaksanakan apabila tujuan evaluasi tidak dirumuskan dulu secara jelas. definisi yang operational. Bila kita ingin mengevaaluasi kemajuan belajar siswa maka pertama-tama kita identifikasi dan kita definisikan tujuan-tujuan instruksional pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya. Dengan demikian efektifitas alat evaluasi tergantung pada deskripsi yang jelas apa yang akan kita evaluasi. Pada umumnya alat evaluasi dalam pendidikan terutama pengajaran berupa test. Test ini mencerminkan karakteristik aspek yang akan diukur. Kalau kita akan mengevaluasi tingkat intelegensi siswa, maka komponen-komponen intelegensi itu harus dirumuskan dengan jelas dan kemampuan belajar yang dicapai dirumuskan dengan tepat selanjutnya dikembangkan test sebagai alat evaluasi. Dengan demikian keberhasilan evaluasi lebih banyak ditentukan kepada kemampuan guru (evaluator) dalam merumuskan/mendefinisikan dengan jelas aspek-aspek individual ke dalam proses pendidikan.

 

  1. Teknik Evaluasi

      Teknik evaluasi yang dipilih sesuai dengan tujuan evaluasi. Hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang cocok untuk semua ke¬perluan dalam pendidikanl Tiap-tiap tujuan (pendidikan) yang ingin di¬capai dikembangkan tekmk evaluasi tersendiri yang cocok dengan tuju¬an tersebut. Kecocokan antara tujuan evaluasi dan teknik yang diguna¬kan perlu dijadikan pertimbangan utama.

 

  1. Komprehensif

      Evaluasi yang komprehensif memerlukan tehnik bervariasi. Tidak adalah teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa dalam belajar, meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajar¬an. Sebab dalam kenyataannya tiap-tiap teknik evaluasi mempunyai ke¬terbatasan-keterbatasan tersendiri. Test obyektif misalnya akan mem¬berikan bukti obyektif tentang tingkat kemampuan siswa. Tetapi hanya memberikan informasi sedikit dari siswa tentang apakah ia benar-benar mengerti tentang materi tersee. but, apakah sudah dapat mengembangkan ketrampilan berfikirnya, apakah akan dapat mengubah / mengembang¬kan sikapnya apabila menghadapi situasi yang nyata dan sebagainya. Lebih-lebih pada test subyektif yang penilaiannya lebih banyak tergan¬tung pada subyektivitas evaluatornya. Atas dasar prinsip inilah maka seyogyanya dalam proses belajar-me¬ngajar, untuk mengukur kemampuan belajar siswa digunakan teknik evaluasi yang bervariasi. Bob Houston seorang ahli evaluasi di Amerika Serikat (Texas) menyarankan untuk mendapatkan hasil yang lebih I obyektif dalam evaluasi, maka variasi teknik tidak hanya dikembangkan dalam bentuk pengukuran kuantitas saja. Evaluasi harus didasarkan pula data kualitatif siswa yang diperoleh dari observasi guru, Kepala Sekolah, catatan catatan harian dan sebagainya.

 

  1. Kesadaran adanya kesalahan pengukuran

        Evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelemahan dalam tek¬nik evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini, maka dituntut untuk lebih hati-hati dalam kebijakan-kebijakan yang diambil setelah melaksanakan evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan, hanya mengukur sebaglan (sampel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur, lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimi liki siswa tidak termasuk dalam sampel pe¬ngukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam evaluasi. Sumber kesalahan (error) yang lain terletak pada alat/instrument yang diguriakan dalam proses evaluasi. Penyusunan alat evaluasi tidak mudah, lebih-Iebih bila aspek yang diukur sifatnya komplek. Dalam skoring sebagai data kuantitatif yang diharapkan dapat mencerminkan objektivitas, tidak luput dari “error of measurement”. Test obyektif tidak luput dari guessing, main terka, untung-untungan, sedangtest essai subyektivitas penilai masuk di dalamnya. Karena itu dalam laporan hasil evaluasi, evaluator perlu melaporkan adanya kesalahan pengukuran ini. Pengukuran dengan test, kesalahan pengukuran dapat ditunjukkan dengan koefisien kesalahan pengukuran.

  1. Evaluasi adalah alat, bukan tujuan

       Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap teknik evaluasi digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa tujuan tertentu akan membuang waktu dan uang, bahkan merugi¬kan anak didik. Maka dari itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru dari tujuan ini dikembangkan teknik yang akan di¬gunakan dan selanjutnya disusun test sebagai alat evaluasi. Jangan sam¬pai terbalik, sebab tanpa diketahui tujuan evaluasi data-yang diperoleh akan sia-sia. Atas dasar pengertian tersebut di atas maka kebijakan-kebijakan pendidikan yang akan diambil dirumuskan dulu dengan jelas sebelumnya dipilih prosedur evaluasi yang digunakan dengan demikian.

 

  1. D.     TEKNIK EVALUASI HASIL BELAJAR BERBICARA

    

     Adapun, teknik yang digunakan dalam evaluasi, penyusunan, dan pelaksanaan tes hasil berbicara, Merupakan tes berbahasa untuk mengukur kemampuan testi dalam berkomunikasi dengan bahasa lisan. Tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berbicara  adalah sebagai berikut :  

  1. Tes berbicara berdasarkan gambar

       Bentuk tes ini di sajikan dengan memberikan rangsangan berupa perangkat gambar yang merupakan satu rangakaian cerita, dan testi diminta untuk menjawab pertanyaan sehubungan dengan rangkaian gambar atau menceritakan rangakaian gambar.

  1. Wawancara

         Dipakai untuk mengukur kemampuan testi menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. tes ini bisa dipakai apabila testi memiliki kemampuan berbahasa yang cukup mewadahi.

  1. Bercerita

        Kemampuan berbicara yang berbentuk berbicara dapat dilakukan dengan cara meminta testi untuk mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu). Bahan cerita disesuaikan dengan keadaan siswa.  Sasaran utama dalam evaluasi ini adalah unsur linguistik, meliputi : ketepatan, kelancaran, dan kejelasan, cara bercerita dan isi cerita.

  1. Diskusi

        Tes ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan testi menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat, serta menanggapi ide atau pikiran yang disampaikan oleh peserta diskusi yang lain secara kritis. Aspek yang dinilai adalah ketepatan penggunaan bahasa meliputi ; kosa kata, struktur kata dan sebagainya .

  1. Ujaran Terstruktur

        Dapat dilakukan dengan cara membaca kutipan, mengubah kalimat, dan membuat kalimat. Dengan tujuan untuk menguji kemampuan testi dalam menggunakan bahasa lisan.

 

  1. E.     ASPEK – ASPEK YANG DINILAI DALAM EVALUASI PENGAJARAN BERBICARA

         Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks, yang tidak hanya mencakup persoalan ucapan/lafal dan intonasi. Berbicara di dalam bahasa apa pun selalu menyangkut pemakaian ungkapan ‘idiom’ serta berbagai unsur bahasa dan nonbahasa. Karena itu evaluasi keterampilan ini seringkali menimbulkan kesulitan bagi guru. Aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan nonkebehasaan. Aspek kebahasaan terdiri atas; ucapan atau lafal, tekanan kata, nada dan irama, persendian, kosakata atau ungkapan, dan variasi kalimat atau struktur kalimat. Aspek nonkebahsaan terdiri atas; kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat, dan sikap.

      Kompetensi berbicara diases melalui instrumen yang dapat mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan. Kemampuan yang ingin diketahui dari kompetensi ini adalah kemampuan siswa mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan berbicara. Dalam mengases kemampuan berbicara, seorang guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa, misalnya pilihan kata (diksi), kalimat efektif, kalimat yang jelas, bahasa yang santun, bahasa yang baik dan benar, bahasa yang lugas, etika berwawancara, dan prinsip diskusi.
Kemampuan lain dalam berbicara yang diases di antaranya kemampuan menggunakan artikulasi yang tepat, intonasi yang jelas, menggunakan gerak-gerik dan mimik sesuai dengan watak tokoh, dan lafal, dan ekspresi yang tepat. Dengan demikian asesmen kompetensi berbicara dimaksudkan mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa dan parabahasa dalam berkomunikasi berupa kejelasan ( vokal dan konsonan ), ketepatan intonasi, ketepatan ekspresi, kelogisan, kewajaran, dan kelancaran.

    Adapun penilaian berbicara komprehensif tidak dilakukan per aspek, tetapi secara utuh, penilaian ini berfokus pada mudah –tidaknya, menarik – tidaknya, dan  lancar – tidaknya pembicaraan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.     KESIMPULAN

     Evaluasi adalah hal penting yang harus dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan peserta didik dalam menangkap pembelajaran. Termasuk evaluasi pengajaran keterampilan berbicara. Dimana dalam evaluasi memiliki aspek  – aspek yang dinilai yaitu aspek bahasa dan aspek kenonbahasaan serta penilaian komprehensif yaitu penilain secara utuh. Dalam mengevaluasi pengajaran berbicara dapat dilakukan dengan berbagai tehnik, misalnya melalui cerita bergambar, diskusi, ujaran cerita, dsb.

 

  1. B.     SARAN

      Adapun untuk menyempurnakan makalah yang saya buat, maka diminta kesediaan teman – teman untuk memeberikan saran dan kritik atas penyusunan makalah ini, agar dapat sempurna dan memberikan manfaat dalam dunia pendidikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Susilofy.”Tes keterampilan berbahasa”.http://susilofy.wordpress.com/2011/01/11/tes-keterampilan-berbahasa/. ( diakses pada tanggal 5 mei 2012)

 

Scribd.”Evaluasi – Berbicara – kretatif”.http://www.scribd.com/doc/76206583/5-Evaluasi-Berbicara-Kreatif-Copy. (diakses pada tanggal 05 Mei 2012)

 

Direktori. “ Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia”. http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/PENILAIAN_dlm_Pengajaran_Bahasa.pdf

Gambar

 

 

Iklan

AkhlaQ kepada Rasulullah SAW.

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

I.1.     Latar Belakang

Nabi Muhammad SAW telah berjuang selama lebih kurang 23 tahun membawa ummat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliaulah yang berjasa besar membebaskan umat manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran, dan kebodohan. Berbagai penderitaan beliau alami dalam perjuangan itu; dihina, dikatakan gila, tukang sihir, penyair, disakiti, dan hendak dibunuh tapi semuanya itu tidak menyurutkan hati beliau untuk tetap berjuang membebaskan umat manusia.

Nabi sangat mencintai umatnya. Beliau hidup dan bergaul serta dapat merasakan denyut nadi mereka. Beliau sangat menyayangi umatnya. Beliau ikut menderita dengan penderitaan umat dan sangat menginginkan kebaikan untuk mereka termasuk dalam penyempurnaan akhlaq. Sehingga umat islam yang hidup ditengah-tengah beliau sangat menjunjung akhlaq kepada Rasulullah SAW.

Namun sejalan dengan perkembangan zaman keadaan semakin memburuk dikalangan umat islam. Bentuk kecintaan, kemuliaan, ketaatan, dan kepatuhan sebagai wujud berakhlaq kepada Rasullah SAW dikalangan umatnya saat ini agak menyimpang dari yang seharusnya.

Oleh karena itu dalam pembahasan makalah ini kami akan menjelaskan tentang akhlaq kepada Rasulullah SAW.

I.2.     Rumusan Masalah

1)   Bagaimana cara mencintai dan memuliakan Rasulullah SAW ?

2)   Bagaimana cara mengikuti dan menaati Rasulullah SAW ?

3)   Apakah keutamaan mengucapkan sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW ?

I.3.     Tujuan

1)   Untuk mengetahui cara mencintai dan memuliakan Rasulullah SAW.

2)   Untuk mengetahui cara mengikuti dan menaati Rasulullah SAW.

3)   Untuk mengetahui keutamaan mengucapkan sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

I.4.     Manfaat

1)   Kita dapat mengetahui cara mencintai dan memuliakan Rasulullah SAW.

2)   Kita dapat mengetahui cara mengikuti dan menaati Rasulullah SAW.

3)   Kita dapat mengetahui keutamaan mengucapkan sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

 

BAB II

PEMBAHASAN

II.1.     Mencintai dan Memuliakan Rasulullah SAW

              Keharusan yang kita tunjukkan dalam akhlaq yang baik kepada Rasulullah SAW menurut Dr. shalih dalam bukunya kitab tauhid 3 yaitu dengan mencintai beliau setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab beliau adalah orang yang menyeru kepada Allah SWT, yang mengenalkan kepada-Nya, yang menyampaikan syariatNya dan yang menjelaskan hukum-hukumNya. Karena itu kebaikan yang diperoleh mu’minin, baik dunia maupun akhirat  adalah dari usaha Rasulullah SAW. dan tidaklah seorang masuk surga kecuali dengan dengan menaati dan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam suatu hadits disebutkan

 

 

 

 “Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, dan tidak mencintai seseorang karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka.” (muttafaq ‘alaih).[1]

          Disamping itu, manakala seseorang yang telah mengaku beriman tapi lebih mencintai yang selain Allah SWT dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang beriman, beliau bersabda:

 

 

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia.” (muttafaq’alaih).

          Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya seagai cinta yang pertama dan utama, maka tentu  saja cinta kepada orang tua, anak-anak, suami atau isteri, sanaksaudara, harta benda dan lain sebagainya harus ditempatkan di bawah cinta kedua cinta tersebut  (termasuk di bawah cinta kepada jihad pada jalan selain Allah SWT). Dalam hal ini Allah SWT memperingatkan dalam ayat berikut ini:

 

 

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah:24)

          Berdagang misalnya, termasuk perwujudan dari cinta kepada harta benda. Tapi bila dalam berdagang seseorang tidak lagi mempedulikan halal dan haram, menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan, atau dengan ungkapan lain tidak lagi mengindahkan aturan Allah SWT dan rasul-Nya, maka cinta terhadap harta benda itu – dalam kasus ini – telah mengalahkan cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Orang-orang seperti inilah yang mendapat peringatan keras dalam ayat di atas.

          Dalam mencintai Rasulullah SAW marilah kita meneladani para sahabat-radhiyAllahu ’anhum. Diriwatkan betapa cintanya tsauban kepada nabi SAW sehingga dia tidak dapat menahan rindu kalau lama tidak melihatnya. Suatu ketika ia tidak dapat melihat wajah nabi beberapa hari lamanya. Mukanya pucat, hatinya gundah gulana, ketika bertemu dengan nabi, ia ditanya tentang perubahan keadaanya yang demikian itu. Tsauban menjawab: “saya tidak sakit ya Rasulullah. Hanya saja apabila saya terhalang melihat wajah tuan, saya tak dapat menahan hati. Dan saya takut benar, di akhirat nanti tidak dapat memandang wajahmu. Tuan berada di surga

ditempat yang sangat tinggi. Saya tentu tidak dapat menyertai tuan”. Mendengar kata-kata tsauban ini, Nabi berkata: “Engkau beserta orang yang engkau cintai”. Pada saat itu pula, Turunlah wahyu Allah SWT:

 

 

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang benar), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS: An-Nisa’ 4: 69)

          Demikian pula besarnya cinta Bilal kepada Nabi. Dikisahkan waktu muazzin Nabi itu hendak menghembuskan nafasnya yang pengahabisan. Beberapa kawannya yang menyaksikan berkata: “ aduh betapa pedih hati kami”. Mendengar kata-kata ini Bilal justru menjawab “ wahai betapa gembira hatiku, esok aku akan segera bertemu dengan Nabi Muhammad”.[2]

          Demikianlah gambaran betapa cintanya Tsauban dan Bilal, dua sahabat Nabi, kepada junjungannya Nabi Muhammad SAW. Demikian pulalah kecintaan para sahabat Nabi yang lain kepada beliau. Di samping mencintai Rasulullah SAW, kita

 juga seharusnya mencintai orang-orang yang dicintai oleh beliau dan membenci orang-orang yang dibencinya, lebih khusus lagi mencintai dan memuliakan keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Rasulullah SAW melarang umatnya mencela sahabat-sahabat beliau.

 

 

“Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku. Andaikata seorang diantara kamu memberikan infaq emas sebesar gunung Uhud, tidak akan sampai menyamai satu mud (infaq) salah seorang diantara mereka, bahkan seengah mud pun tidak. “(HR. Bukhari)

          Karena cinta kepada Rasulullah SAW, dengan sendirinya kita ikut merasa terhina apabila ada yang menghina Rasulullah SAW, atau menghina orang-orang yang dicintai beliau.

          Sesudah mencintai Rasulullah SAW, kita juga berkewajiban menghormati dan memuliakan beliau, lebih dari pada menghormati dan memuliakan tokoh mana pun dalam sejarah umat manusia. Diantara bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap beliau adalah tidak boleh mendahului beliau dalam mengambil keputusan atau menjawab pertanyaan.

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Hujarat:1)

          Menurut Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, para sahabat, jika diajukan pertanyaan didalam majelis yang dihadiri Nabi, mereka tidak mau mendahului beliau menjawab, apabila dihidangkan makanan mereka tidak akan memulai makan sebelum Nabi memulainya, kalau berjalan bersama Nabi mereka tidak akan berada di depan”.[3]

          Para sahabat, karena sangat hati-hatinya menjaga jangan sampai mendahului Rasulullah SAW, apabila ditanya oleh Rasulullah SAW biasanya mereka menjawab dengan mengatakan “ Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, sekalipun sebenarnya mereka tahu jawabannya. Misalnya dalam haji wada’, Rasulullah bertanya tentang tahun, bulan dan hari itu, mereka tahu jawabannya, tetapi tetap menjawabnya dengan menyatakan Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Waktu ditanyakan kemudian hari kenapa mereka menjawabnya seperti itu, mereka mengatakan khawatir kalau Rasulullah bertanya hanya sekedar pengantar untuk merobah nama hari, bulan dan tahun waktu itu.

          Demikianlah sikap para sahabat memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW. Bagi kita sekarang, di mana secara fisik Rasulullah SAW tidak lagi hadir bersama kita, tidak mendahului beliau itu dimanifestasikan dengan tidak menetapkan suatu perkara sebelum membahas dan menelitinya terlebih dahulu dalam Al-Qur’an dan sunnah sebagai dua warisan beliau yang harus selalu dipedomani.

          Bentuk lain dari penghormatan dan memuliakan Rasulullah SAW adalah tidak berbicara keras di hadapan beliau. Allah SWT Berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. . (QS.Al-Hujarat 49:2)

    Sanksi bagi yang melanggar larangan Allah SWT di atas tidak tanggung-tanggung, yaitu hilang lenyap seluruh pahala amal kebaikan yang telah dilakukan. Tapi sebaliknya bagi yang mematuhi juga dapat janji pahala yang besar.

 “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.  (QS.Al-Hujarat:3)

          Sikap penghormatan terhadap Rasulullah SAW dalam berbicara seperti yang dijelaskan di atas, dapat diteruskan setelah beliau wafat dengan tidak mengeraskan suara di depan para ulama pewaris Nabi, di dalam majelis yang sedang dibacakan atau diajarkan warisan Nabi (Al-Qur’an dan Sunnah), dan juga di masjid Nabawi dan lebih khusus lagi di kuburan Nabi.

II.2.     Mengikuti dan Memuliakan Rasulullah SAW

          Mengikuti Rasulullah SAW (ittiba ar-Rasul) adalah salah satu bukti kecintaan seorang hamba terhadap Allah SWT. Allah SWT berfirman:

 

 

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah SWT mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. ‘’Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ali-Imran:31)

          Rasulullah SAW, sebagaimana rasul-rasul yang lain, di utus oleh Allah SWT untuk diikuti dan dipatuhi.

 

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.’’(QS. An-Nisa:80)

          Ketaatan kepada Rasulullah SAW bersifat mutlak, karena taat kepda beliau merupakan bagian dari taat kepada Allah SWT. Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

 

 

“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa 4:80)

          Dalam banyak ayat, Allah SWT meletakkan perintah taat kepada Rasulullah SAW sesudah perintah taat kepada Allah SWT. Adakalanya perintah taat kepada Rasulullah SAWdisebut secara eksplisit sehingga kalimatnya menjadi ‘’taatlah kepada Allah SWT dan taatlah kepada Rasul’’, dan ada kalanya dengan di’athaf (diikutkan ) saja kepada perintah saat kepada Allah SWT, sehingga kalimatnya menjadi “taatlah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya’’ seperti dalam ayat berikut ini:

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu.Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan baru kemudian. Yang demikian itu lebih baik akibatnya.”(QS. An-Nisa 4:59)

          Mengikuti dan menaati Rasulullah SAW, berarti mengikuti jalan lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang terlembagakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Itulah dua warisan yang ditinggalkan Rasulullah SAW untuk umat manusia, Yang apabila selalu dipegang teguh, umat manusia tidak akan tersesat buat selamanya.

          Ajaran Al-Qur’an dan sunnah yang di wariskan oleh Rasulullah SAW bersifat komprehensif (mencakup seluruh aspek kehidupan). Secara garis besar, warisan Rasulullah tersebut dapat dibagi kepada aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Di antara empat aspek tersebut ada yang dijelaskan secara terperinci yang oleh karena itu bersifat statis, dan ada yang hanya diberikan garis besar atau prinsip prinsipnya saja sehingga bersifat dinamis.

          Yang bersifat statis itu adalah aspek aqidah, ibadah, akhlak (dalam pengertian nilai baik buruknya tidak berubah, tapi manifestasinya bisa berubah) dan sebagian kecil aspek muamalah (yaitu tata kehidupan berkeluarga). Sedangkan yang bersifat dinamis adalah sebagian besar aspek mu’amalah (politik-ekonomi-sosial-budaya-hankam dan lain-lain).

          Ajaran yang statis tidak boleh mengalami perubahan karena fungsinya sebagai dasar atau landasan normatif yang membingkai dan mewarnai semua aspek kehidupan manusia. Sejak pertama kali diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat, sampai kepada zaman kita sekarang ini, dan untuk masa seterusnya, aspek-aspek yang statis itu tidak boleh mengalami perubahan.

          Apabila terjadi perubahan, akibat pengaruh yang datang dari luar islam, baik dari agama-agama maupun budaya lain, maka menjadi tugas umat islam umumnya, dan para ulama khususnya untuk melakukan pemurnian (purifikasi). Yang dibersihkan dari aspek ibadah adalah unsur bid’ah. Sedangkan dari aspek akhlak nilai baik buruk yang sudah mengalami pergeseran dikembalikan kepada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

          Berbeda dengan aspek yang statis, maka ajaran islam yang bersifat dinamis (yaitu sebagian besar aspek mu’amalah) selalu menerima perubahan. Oleh sebab itu islam hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja, sedangkan pengembangan dan penjabarannya diserahkan kepada historitas umat manusia di setiap waktu dan tempat. Misalnya prinsip musyawarah dalam memilih pimpinan, dapat dilaksanakan dengan mekanisme yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

          Demikianlah dalam aspek yang statis kita mengikuti dan mematuhi Rasulullah SAW adanya tanpa mengurangi dan menambahnya, tapi dalam aspek yang dinamis kita hanya dituntut mengikuti prinsip-prinsipnya atau garis besarnya saja. Dengan demikian kita dapat mengembangkannya sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan.

II.3.     Mengucapkan Sholawat dan Salam Kepada Rasulullah SAW

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan sholawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW.

 

 

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersholawat untuk Nabi. Hai  orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS.Al-Ahzab:56)

          Sekalipun perintah untuk bersholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW dalam ayat di atas diawali oleh Allah SWT beserta malaikat-malaikat-Nya, tapi pengertian sholawat masing–masing tentu berbeda dengan sholawat orang-orang yang beriman. Menurut Al-Ghazali Khalil ‘Aid dalam bukunya Tafsir Surah Al-Ahzab, sholawat dari Allah SWT untuk Nabi artinya rahmah dan keridhoan,dari malaikat artinya permohonan atau ampunan do’a, sedangkan dari orang-orang yang beriman berarti penghormatan dan do’a supaya Allah SWT menambah kemuliaan dan kehormatan bagi beliau.[4]

          Sedangkan menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam buku Rawai’u al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an kata sholawat (ash-sholah)-bentuk mashdar dari “yusholluun”-dapat berarti do’a, istigfar, dan rahmah. Kalau Allah SWT bershalawat kepada Nabi, itu berarti Allah SWT memberi ampunan dan rahmat kepada Nabi, inilah salah satu makna sesuai dengan ayat di atas.[5]

          Shalawat adalah bentuk jamak dari kata “salat” yang berarti do’a atau seruan kepada Allah SWT. Membaca shalawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah SWT untuk  Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga beliau (Nabi) sejahtera (beruntung, tak kurang suatu apapun, keadaannya tetap baik dan sehat).

          Salam berarti “damai, sejahtera, aman sentosa, dan selamat”. Jadi saat seorang muslim membaca shalawat untuk Nabi, dimaksudkan mendoakan beliau semoga tetap damai, sejahtera, aman sentosa dan selalu mendapatkan keselamatan.

          Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi bukanlah karena Nabi membutuhkannya. Sebab tanpa do’a dari siapapun beliau sudah pasti akan selamat dan mendapatkan tempat yang paling mulia dan paling terhormat di sisi Allah SWT. Sesudah jaminan dari Allah SWT seperti itu tentu beliau tidak memerlukan do’a dari para pengikutnya.

          Adapun bila kita bershalawat kepada Nabi hal itu justeru akan membawa keberuntungan bagi kita sendiri, hal ini disabdakan oleh Rasulullah SAW:

Barangsiapa bershalawat untukku satu kali, maka dengan shalawatnya itu Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR. Ahmad)

          Manakala seseorang telah menunjukkan akhlaknya kepada Nabi dengan banyak mengucapkan sholawat, maka orang tersebut akan dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang paling utama kepadanya pada hari kiamat, beliau bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling utama kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi).

          Sebaliknya, orang yang tidak mau bershalawat kepada Rasulullah SAW tatkala mendengar nama beliau dianggap sebagai orang yang kikir (bakhil), hal ini dinyatakan oleh Rasulullh SAW:

Yang benar-benar bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku dihadapannya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Manfaat Membaca Sholawat dan Salam Kepada Rasulullah SAW

Sesungguhnya sholawat yang dibaca oleh seorang muslim akan mengandung beberapa manfaat, dimana hal itu akan bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat, diantaranya adalah:

1)        Mengikuti perintah Allah SWT

2)        Agar diangkat derajatnya

3)        Dihapus sepuluh keburukan

4)        Mengharap terkabulnya do’a apabila didahului dengan sholawat

5)        Akan ditulis sepuluh kebaikan

6)        Memperoleh syafaat dari Nabi

7)        Menyebabkan ingat dan dekat kepada Nabi Muhammad SAW

8)        Bisa menghapus kesan kikir

9)        Menempati tempat kedudukan sedekah

10)    Sebagai sebab menjadikan pujian yang baik dari langit dan bumi

 

 

BAB III

PENUTUP

III.1.     Kesimpulan

1)   Cara membuktikan bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW diantaranya yaitu: (a) Meletakkan kecintaan kita kepada beliau setelah cinta kepada Allah SWT; (b) Menempatkan cinta kepada orang tua, anak-anak, suami atau isteri, sanak saudara, harta benda dan lain sebagainya di bawah cinta kedua cinta tersebut  (termasuk di bawah cinta kepada jihad pada jalan selain Allah SWT); (c)  Mencintai orang-orang yang dicintai oleh beliau dan membenci orang-orang yang dibencinya, lebih khusus lagi mencintai dan memuliakan keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Dan tidak mencela sahabat-sahabat beliau.Sedangkan bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap beliau bagi kita sekarang, di mana secara fisik Rasulullah SAW tidak lagi hadir bersama kita, dimanifestasikan dengan tidak menetapkan suatu perkara sebelum membahas dan menelitinya terlebih dahulu dalam Al-Qur’an dan sunnah sebagai dua warisan beliau yang harus selalu dipedomani.

2)   Cara Mengikuti dan menaati Rasulullah SAW yaitu melakukan segala aspek kehidupan sesuai dengan aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yang terlembagakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.Yang apabila selalu dipegang teguh kita tidak akan tersesat selamanya.

3)   Manfaat mengucap sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW, diantaranya:

  1. Mengikuti perintah Allah SWT
  2. Agar diangkat derajatnya
  3. Dihapus sepuluh keburukan
  4. Mengharap terkabulnya do’a apabila didahului dengan sholawat
  5. Akan ditulis sepuluh kebaikan
  6. Memperoleh syafaat dari Nabi
  7. Menyebabkan ingat dan dekat kepada Nabi Muhammad SAW
  8. Bisa menghapus kesan kikir
  9. Menempati tempat kedudukan sedekah
  10. Sebagai sebab menjadikan pujian yang baik dari langit dan bumi

III.2.     Saran

Kami menyadari bahwa makalah yang kami sajikan ini masih memiliki banyak  kekurangan baik dari teknik penyajian maupun bahasanya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan sumbangsih berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk penyempurnaan makalah ini.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Ali Ash-Shabuni,Muhammad.1977. Rawai’u al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an jilid II. Damaskus: Maktabah al-ghazali.

Al Idrusy,Imron.2001.Keutamaan Sholawat. Surabaya:Putra Pelajar.

‘Aid,Al-Ghazali Khalil.1982.Tafsir Surah Al-Ahzab.Riyadh: Muassasah al-Madad Allah SWT.

Shahih,Dr.2009.Kitab Tauhid 3. Jakarta: Darul Haq.

Tatapangarsa,Humaidi.1991.Akhlaq Yang Mulia .Surabaya: Bina Ilmu.

Yunahar Ilyas,K.H. 2002. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta:LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.


[1] Dr. Shalih, Kitab Tauhid 3 (Jakarta:Darul Haq), hlm.103-104.

[2] Humaidi Tatapangarsa, Akhlaq Yang Mulia (Surabaya: Bina Ilmu, 1991) , hlm. 90-91.

[3] Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafsir (Beirut: Dar Al-Qur’an Al-Karim, 1981), jilid III, hlm. 232.

[4] Al-Ghazali Khalil ‘Aid, Tafsir Surah Al-Ahzab (Riyadh: Muassasah al-MadadAllah SWT,1982),hlm. 155.

[5] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Rawai’u al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an, (Damaskus Maktabah al-ghazali, 1977),jilid II, hlm. 361.