*RPP Kelas Rangkap* by fajriyah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KELAS RANGKAP

 

                                      Mata Pelajaran / Topik         : PKn / KESEHATAN

                                      Kelas / Semester                   : 2 / 1, dan 3 / 1

                                      Alokasi Waktu                       : 2 x 35 Menit

 

 

Standar Kompetensi :

  • Menampilkan sikap cinta lingkungan.

 

Kompetensi Dasar :

  • Mengenang pentingnya lingkungan alam seperti dunia tumbuhan dan dunia hewan.

 

Indikator :

          Kognitif :

              Proses

  • Menjelaskan  pengertian lingkungan alam dan lingkungan buatan

              Produk

  • Menuliskan macam-macam lingkungan alam dan lingkungan buatan yang ada disekitar.
  • Menyebutkan contoh lingkungan alam dan buatan yang ada disekitar.

          Afektif :

              Perilaku  berkarakter

  • Bekerja Sama
  • Percaya Diri
  • Bertanggung Jawab
  • Disiplin
  • Peduli

              Keterampilan sosial

  • Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar.
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

          Psikomotorik  :

  • Menceritakan keadaan lingkungan alam dan lingkungan buatan disekitar rumahnya.

 

Tujuan Pembelajaran :

Kognitif :

Produk

  • Selama proses pembelajaran murid dapat Menjelaskan pengertian lingkungan alam dan lingkungan buatan.

Proses 

  • Selama proses pembelajaran siswa dapat  menuliskan macam-macam lingkungan alam dan lingkungan buatan yang ada disekitar.
  • Selama proses pembelajaran siswa dapat menyebutkan contoh lingkungan alam dan lingkungan buatan.

 

Afektif :

Perilaku Berkarakter

  • Siswa dapat disiplin dalam menyelesaikan soal
  • Siswa dapat bekerjasama dalam kelompok dengan baik
  • Siswa peduli dengan teman kelompoknya yang belum paham 
  • Siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan penuh tanggung jawab
  • Siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan penuh rasa percaya diri  

Keterampilan Sosial:

  • Siswa dapat bertanya dengan bahasa yang baik dan benar.
  • Siswa dapat menjadi pendengar yang baik
  • Siswa dapat membantu teman yang mengalami kesulitan.

Psikomotorik

  • Setelah mendapatkan penjelasan siswa mampu menceritakan keadaan lingkungan alam dan lingkungan buatan.

 

Materi Pembelajaran :

  •  Macam-macam lingkungan benda hidup
  • Memelihara lingkungan

 

Model dan Metode Pembelajaran :

      Model pembelajaran :

  • Model Kooperatif Tipe STAD

Metode pembelajaran :

  • Ceramah
  • Diskusi
  • Latihan
  • Tanya jawab

 

Langkah-langkah Pembelajaran :

  1. Kegiatan Awal (10 menit)
  • Mengkondisikan Kelas
  • Berdo’a
  • Guru mengisi daftar kelas
  • Guru mempersiapkan materi ajar dan alat peraga

            Apersepsi (Tanya jawab)

  • Menyampaikan tujuan pembelajaran
  1. Kegiatan Inti (45 menit)-
  • Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.
  • Semua siswa diminta untuk mendengar dan menyimak penjelasan guru tentang materi yang disampaikan.
  • Membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk diksusi kelas
  • Mengajak siswa untuk berdiskusi melalui “Pertanyaan Pemahaman”.
  • Menugaskan siswa untuk memberikan laporan hasil diskusi tentang materi yang dibahas.
  • Siswa melaporkan hasil diskusi kelompok,
  • Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran
  • Kegiatan Penutup

      Dalam kegiatan penutup, guru:

  • Guru memberikan remedial dan PR
  • Guru memberikan pesan-pesan moral.
  • Guru menutup pelajaran.

Sumber Belajar :

  1. Sumber :

& Buku pendidikan kewarganegaraan  untuk kelas II SD/ MI, CV Putra Nugraha.

  1. Alat  :

& Gambar lingkungan benda hidup

Penilaian :

& Prosedur : Prosedur dan produk. Penilaian terhadap siswa dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan pada akhir pembelajaran. Penilaian dalam proses dilakukan melalui observasi, terutama ketika bekerja dalam kelompok, sedangkan penilaian produk (akhir pembelajaran) dilakukan melalui unjuk kerja.

& Teknik : Tes

& Bentuk : Tes uraian, pilihan ganda

& Soal/ instrument : Terlampil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makassar,                  2012

 

           Mengetahui,

 

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

.……………..……………

NIP.

 

Guru kelas

 

 

 

…………………….

        NIP.

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KELAS RANGKAP

 

                                      Mata Pelajaran / Topik         : IPS / KESEHATAN

                                      Kelas / Semester                   : 2 / 1, dan 3 / 1

                                      Alokasi Waktu                       : 2 x 35 Menit

 

 

Standar Kompetensi :

  • Ø Memahami lingkungan dan melaksanakan kerja sama di sekitar rumah dan sekolah.

 

Kompetensi Dasar :

  • Ø Memelihara lingkungan alam buatan disekitar rumah dan sekolah.

 

Indikator :

          Kognitif  :

     Proses

  • Menjelaskan  pengertian perawatan lingkungan sekitar.

              Produk

  • Menuliskan cara-cara merawat lingkungan sekitar.

          Afektif :

              Perilaku  Berkarakter

  • Bekerja Sama
  • Percaya Diri
  • Bertanggung Jawab
  • Disiplin
  • Peduli

              Keterampilan Sosial

  • Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar.
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

          Psikomotorik :

  • Melakukan perawatan lingkungan sekitar.

 

Tujuan Pembelajaran :

Kognitif :

Produk

  • Selama proses pembelajaran murid dapat Menjelaskan pengertian perawatan lingkungan sekitar.

Proses 

  • Selama proses pembelajaran siswa dapat  menuliskan cara-cara merawat lingkungan sekitar.

Afektif :

Perilaku Berkarakter

  • Siswa dapat disiplin dalam menyelesaikan soal
  • Siswa dapat bekerjasama dalam kelompok dengan baik
  • Siswa peduli dengan teman kelompoknya yang belum paham 
  • Siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan penuh tanggung jawab
  • Siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan penuh rasa percaya diri  

Keterampilan Sosial:

  • Siswa dapat bertanya dengan bahasa yang baik dan benar.
  • Siswa dapat menjadi pendengar yang baik
  • Siswa dapat membantu teman yang mengalami kesulitan.

Psikomotorik

  • Setelah mendapatkan penjelasan siswa mampu melakukan perawatan lingkungan sekitar.

 

Materi Pembelajaran :

  • Manfaat lingkungan alam dan buatan bagi kehidupan

 

Model dan Metode Pembelajaran :

      Model pembelajaran :

  • Model Kooperatif Tipe NHT

Metode pembelajaran :

  • Ceramah
  • Diskusi
  • Latihan
  • Tanya jawab

Langkah-langkah Pembelajaran :

  1. Kegiatan Awal (10 menit)
  • Mengkondisikan Kelas
  • Berdo’a
  • Guru mengisi daftar kelas
  • Guru mempersiapkan materi ajar dan alat peraga

            Apersepsi (Tanya jawab)

  • Menyampaikan tujuan pembelajaran
  1. Kegiatan Inti (45 menit)-
  • Semua siswa diminta untuk mendengar dan menyimak penjelasan guru tentang materi yang disampaikan.
  • Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok mendapat nomor.
  • Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  • Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/ mengetahui jawabannya.
  • Guru memanggil salah satu nomor siswa dan siswa yang nomornya dipanggil melaporkan hasil hasil kerja sama diskusi kelompoknya.
  • Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor lain, dst.
  • Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran
  • Kegiatan Penutup

      Dalam kegiatan penutup, guru:

  • Guru memberikan remedial dan PR
  • Guru memberikan pesan-pesan moral.
  • Guru menutup pelajaran.

 

Sumber Belajar :

  1. Sumber :

& Buku pendidikan kewarganegaraan  untuk kelas III SD/ MI, CV Putra Nugraha.

  1. Alat  :

& Gambar lingkungan alam dan lingkungan buatan.

Penilaian :

& Prosedur : Prosedur dan produk. Penilaian terhadap siswa dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan pada akhir pembelajaran. Penilaian dalam proses dilakukan melalui observasi, terutama ketika bekerja dalam kelompok, sedangkan penilaian produk (akhir pembelajaran) dilakukan melalui unjuk kerja.

& Teknik : Tes

& Bentuk : Tes uraian, pilihan ganda

& Soal/ instrument : Terlampil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makassar,                  2012

 

           Mengetahui,

 

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

.……………..……………

NIP.

 

Guru kelas

 

 

 

…………………….

        NIP.

 Gambar

* CoretanQoe *

Inilah yang selalu kubilang
bahwa hidup adalah perubahan
Tak tau bagaimana laju perputarannya
tapi roda selalu berputar kawan

Dalam setiap perjalanan
kita merantai kisah
suka, duka, tangis, tawa
marah, gembira..
Semuanya berpadu dalam balutan
Persahabatan

Ada kalanya kita berselisih
tapi lebih banyak berbagi kasih
Ada kalanya kita egois
tapi lebih banyak saling mengerti
Ada kalanya kita tak sejalan
tapi lebih banyak kita bergandengan tangan

Jarum jam adalah saksi
berapa waktu telah terlalui
Bulan dan langit malam adalah kawan
saat dera kesibukan menjelang pemeriksaan
Jamu datang bulan dan bebaqaran
semua menjadi kesaksian
betapa berartinya seorang kawan

Tapi hidup adalah perubahan kawan
Sekali lagi kubilang
Seperti aliran air hujan dalam sajak yang kau sukai
Kemana pun alirannya mereka berguna
Begitupun kita
Bagaimana pun perputarannya
menuju pada arah yang sama
: Kebaikan

Hari-hari tak akan sama lagi
nikmati saja perubahannya
kelak kau akan merasa
semuanya menjadi terbiasa
meski tanpa aku lagi…

*AIK 7 Dakwah & masalahnya*

DAKWAH DAN MASALAHNYA

 

Di susun oleh :

 

 

FAJRIYAH MUH. YUSUF    : 10540 2618 09

 

 

Pendidikan guru sekolah dasar

Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan

Universitas muhammadiyah

Makassar

2012

KATA PENGANTAR

 

 
   

 

 

 

Alhamdulillahi Rabbil alamin, Segala Puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah, yang baik dan yang didalamnya penuh barakah, selaras dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya, sehingga kami telah berhasil menyusun makalah Al-Islam Kemuhammadiyaan Tujuh yang berjudul “Dakwah & Masalahnya”.

            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Makalah ini telah banyak sumbangsih yang diterima baik berupa tenaga, motivasi, pikiran dan materi dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian Makalah ini.

Tiada yang sempurna di muka bumi ini, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, apa yang kami sajikan dalam makalah ini sesungguhnya masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa penulis nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pembelajaran Al-Islam Kemuhammadiyaan.

Wassalam….

                                                                                               

  Makassar,                      2012

                                                                                                           

 

  Kelompok 7

 

 

 

 

 

 

 
 

i

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..              i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………..              ii

BAB I   PENDAHULUAN ………………………………………………………………….             1

             I.1.     Latar Belakang ………………………………………………………………………             1

             I.2.      Rumusan Masalah………………………………………………………………….             2

             I.3.      Tujuan………………………………………………………………………………….             2

BAB II  PEMBAHASAN ……………………………………………………………………             3

           II.1. Pengertian Dakwah secara Etimologi ……………………………………………             3

           II.2. Dasar hukum Dakwah   …………………………………………………………….             4

           II.3. Tujuan Dakwah ……………………………………………………………………….             6

           II.4. Implikasi Dakwah …………………………………………………………………….             9

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………           12

        III.1.     Kesimpulan                ……………………………………………………………..           12

         III.2.     Saran                         ……………………………………………………………..           12

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………           13

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara disebutkan bahwa hakekat pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam pola manusia seutuhnya berarti dalam pelaksanaan pembangunan fisik hendaknya tidak terlepas dari jalur yang mengarah kepada ketinggian martabat manusia. Manusia seutuhnya berarti pula manusia yang mencerminkan keselarasan hubungannya dengan Allah Swt, dan lingkungannnya. Manusia seutuhnya adalah manusia yang bermutu tinggi baik lahiriah maupun batiniah.

Untuk mewujudkan manusia yang bermutu tinggi tersebut diperlukan berbagai upaya, antara lain melalui dakwah Islamiah. Namun dengan perkembangan masyarakat yang semakin dinamis dewasa ini dan beragamnya watak dan corak sasaran dakwah, maka pelaksanaan dakwah dihadapkan kepada persoalan yang semakin kompleks. Untuk itu diperlukan sarana dakwah baik memuat materi dan metode maupun media informasi yang dapat mendukung kelancaran pelaksanaan dakwah.

Masalah dakwah dalam Islam sama umurnya dengan Islam sebagai agama Allah Swt, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, pada dasarnya disebarluaskan dengan jalan dakwah. Dakwah ini dijalankan Nabi dengan cara lemah lembut. Memang melalui dakwah orang-orang Arab Jahiliah diharapkan secara sukarela menjadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim hendaknya didasarkan kepada penerimaan dan kesadaran, bukan dengan paksaan atau tekanan.

Dalam melaksanakan dakwah, haruslah dipertimbangkan secara sungguh-sungguh tingkat dan kondisi cara berpikir mad’u (penerima dakwah) yang tercermin dalam tingkat peradabannya termasuk system budaya dan struktur sosial masyarakat yang akan atau sedang dihadapi. Secara evolusi, obyek dakwah mengalami perkembangan ke arah yang lebih tinggi sesuai dengan tingkat kemajuan dan intelektual. Bahkan seharusnya seirama dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengembangan dakwah dimaksudkan agar ajaran Islam secara keseluruhan meresapi kehidupan manusia sehingga mampu memecahkan segala masalah kehidupannya, pemenuhan kebutuhannya yang sesuai dengan ridha Allah swt. Dengan demikian, dakwah dipandang sebagai proses pendidikan individu dan masyarakat sekaligus proses pembangunan itu sendiri.

Dakwah dipandang sebagai proses pendidikan yang baik dan benar-benar harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang diterapkan sedini mungkin kepada anak-anak. Apabila proses tersebut dapat berjalan dengan baik, kita akan melihat munculnya generasi muda yang memiliki komitmen yang kuat. Mereka adalah para pemuda yang selalu siap mengemban misi kemanusiaan kepada masyarakat yang ada di lingkungannya dan siaga dalam memenuhi panggilan yang diserukan oleh negara.

Agama Islam berkembang di berbagai Negara, bahkan sampai pernah mencapai dua per tiga dunia tak lain karena aktivitas dakwah. Penyebaran yang dilakukan tanpa henti dan dilakukan oleh setiap umat muslim di dunia. Dakwah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan oleh setiap muslim. Karena dakwah merupakan kewajiban individual sekaligus juga kewajiban kolektif bagi umat islam.

Menurut logika (ilmu berfikir lurus), scientifik berarti ilmiah, dakwah berarti dua orang atau lebih yang salah satu atau sebagai diantaranya menyampaikan pesan dakwah Ilmu dakwah arab dibedakan dengan ilmu berdakwah jika yang kita maksud adalah ilmu dakwah ia merupakan proposisi atau teori tentang dakwah yang diangkat dari fakta dakwah melalui proses penelitian empiritse dangkan ilmu berdakwah berkaitan dengan suatu keahlian dai menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u nya, Dakwah itu otonomi artinya mandiri tidak ada campur tanggan dari luar dakwah. Dan apa yang dimaksud dengan kesatuan dai yaitu kesatuan dai harus memiliki banyak keahlian dan pengetahuan agama yang tinggi, luas, dan mendalam.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apakah yang dimaksud dengan Dakwah?
    2. Bagaimanakah dasar hukum Dakwah dalam Islam?
    3. Apakah tujuan Dakwah?
    4. Bagaimana Impilkasi (Efek) tujuan akhir dari upaya dakwah?
    5. C.     Tujuan
      1. Untuk mengetahui pengertian Dakwah.
      2. Untuk mengetahui dasar hukum Dakwah dalam islam.
      3. Untuk mengetahui tujuan akhir dari Dakwah.
      4. Untuk mengetahui implikasi tujuan akhir dari upaya Dakwah.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

RUANG LINGKUP DAKWAH

  1. A.     Pengertian Dakwah Secara Etimologi

kata dakwah setelah metode ialah secara etimologi dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu دعوة –يدعو – دعا, artinya panggilan, ajakan, seruan, propaganda, bahkan berarti permohonan dengan penuh harap.

Menurut Toha Yahya Umar, dakwah menurut Islam ialah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk kemashlahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Q. S. YUNUS : 108

 

Syekh Ali Mahfudz memberikan pengertian dakwah adalah sebagai berikut:

ليفوزوا المنكر عن والنهي بالمعروف والامر والهدى الخيا على لناس حث

.والعجل العاجل بسعادة

Artinya : “Mendorong manusia atas kebaikan dan petunjuk dan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran guna mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”

M. Isa Anshari memberikan pengertian dakwah yaitu menyampaikan seruan Islam, mengajak dan memanggil umat manusia agar menerima dan mempercayai keyakinan dan pandangan hidup Islam.

 

 

Al-Khuly mendefnisikan dakwah sebagaimana yang dikutip oleh Moh. Natsir Mahmud, yaitu:

محيط الى محيط من امة نقل

“Mengubah umat dari suatu situasi ke situasi yang lain”

            Yakni dari situasi negatif ke situasi yang positif, dan dari yang positif ke kondisi yang lebih positif.

  1. B.  Dasar Hukum Dakwah

            Islam dan dakwah adalah dua hal yang tak terpisahkan. Islam tidak akan mungkin maju dan berkembang bersyi’ar dan bersinar tanpa adanya upaya dakwah. Semakin gencar upaya dakwah dilaksanakan semakin bersyi’arlah ajaran Islam, semakin kendor upaya dakwah semakin redup pulalah cahaya Islam dalam masyarakat. Laisa al-Islam illa bi al-da’wah, demikianlah sebuah kata bijak mengungkapkan. Ajaran Islam yang disiarkan melalui dakwah dapat menyelamatkan manusia dan masyarakat pada umumnya dan hal-hal yang dapat membawa pada kehancuran.

            Oleh karena itu, dakwah bukanlah suatu pekerjaan yang asal dilaksanakan sambil lalu, melainkan suatu pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap pengikutnya. Dalam QS. Ali Imran (3): 104, Allah Swt berfirman:

هُمُ وَأُولَئِكَ الْمُنْكَرِ عَنِ وَيَنْهَوْنَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَأْمُرُونَ الْخَيْرِ إِلَى يَدْعُونَ أُمَّةٌ مِنْكُمْ لْتَكُنْ وَ  (۱۰٤)الْمُفْلِحُونَ

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

            Berdasarkan ayat di atas, para ulama sepakat bahwa hokum dakwah adalah wajib. Adapun yang menjadi perdebatan di antara mereka adalah apakah kewajiban itu dibebankan kepada setiap individu muslim (fardhu ‘ain) atau kewajiban itu hanya dibebankan kepada sekelompok orang saja dari umat Islam secara keseluruhan (fardhu kifayah). Oleh karena itu akan diungkapkan masing-masing pendapat beserta argumen-argumennya tentang dasar hukum dakwah. Perbedaan disebabkan karena cara-cara pemahaman mereka terhadap dalil-dalil naqli (Alquran dan hadis) di samping adanya kenyataan kondisi tiap muslim yang berbeda kemampuan dan spesifikasi ilmunya.

            Muhammad Abduh cenderung pada pendapat pertama, yaitu wajib ‘ain hukumnya dengan alasan bahwa huruf “lam” yang terdapat pada kalimat “waltakum” mengandung makna perintah yang sifatnya mutlak tanpa syarat. Sedangkan huruf “mim” yang terdapat pada kalimat “minkum” mengandung makna li al-bayan yang artinya bersifat penjelasan. Jadi, terjemahan ayat tersebut menurut beliau menjadi: “Dan hendaklah ada (yaitu) kamu sekalian sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan…, dan seterusnya”.

            Menurut beliau, seluruh umat Islam dengan ilmu yang dimilikinya betapapun minimnya wajib mendakwahkannya kepada orang lain sesuai ilmu dan kemampuan yang ada padanya.

            Al-Syaukaniy cenderung pada pendapat yang kedua, sebagaimana yang dikutip oleh Syamsuri Siddiq bahwa dakwah Islamiyah hukumnya wajib kifayah. Artinya, dikerjakan oleh sebagian umat Islam yang mengerti tentang seluk beluk agama Islam. Sedang umat Islam yang lainnya yang belum mengerti tentang seluk beluk Islam tidak wajib berdakwah. Dengan demikian bebaslah dosa yang tidak melaksanakan dakwah sebab sudah terpikul oleh yang sebahagian. Beliau melihat bahwa huruf “mim” yang melekat pada kalimat “minkum” bukan li al-bayan, tetapi li al-tab’idh yakni menunjukkan sebahagian dari umat Islam. Jadi terjemahan ayat tersebut adalah: “Dan hendaklah ada dari sebahagian kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan…,dan seterusnya.

            Pendapat ini didukung oleh para ahli tafsir lainnya, Imam Qurthubi, Imam Suyuthi dan Imam Zamakhsyariy. Al-Razy berpendapat lebih moderat dengan mengatakan bahwa huruf “mim” pada kata “minkum” itu li al-bayan, yakni bersifat penjelasan. Dengan demikian, dakwah Islam itu hukumnya wajib ‘ain dengan dua alasan.

  1. Allah Swt mewajibkan amar ma’ruf dan nahi munkar atas seluruh umat berdasarkan firman Allah Swt: “Adalah kamu sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk umat manusia, supaya kamu menyuruh mengerjakan kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.
  2. Bahwa tidak akan dibebankan kecuali untuk berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar baik dengan tangan, lidah atau dengan hati bagi setiap orang harus berusaha menolak yang memudharatkan kepada dirinya.

            Berpedoman pada keterangan para mufassir, maka dapat dipahami bahwa pendapat al-Razy yang nampaknya lebih praktis dibanding dengan pendapat yang lain, dan pendapat al-Razy ini merupakan sintesa atau jalan tengah yang menerangkan pendapat Muhammad Abduh dan al-Syaukaniy. Menurut beliau harus dilihat urgensinya terlebih dahulu. Oleh karena itu Rasulullah Saw berpesan:

Artinya : “Barangsiapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mencegah dengan tangannya (dengan kekuatan, kekuasaan atau kekerasan), jika ia tidak sanggup demikian (lantaran tidak mempunyai kekuatan / kekuasaan), maka dengan lidahnya, (teguran dan nasehat dengan lisan atau tulisan). Jika pun tidak sanggup demikian (lantaran serba lemah) maka dengan hatinya, dan yang terakhir ini adalah iman yang paling lemah”. (HR. Muslim).

           

            Dengan memperhatikan hadis di atas, ada tiga alternatif konsep penanggulangan untuk mencegah kemungkaran antara lain:

  1. Kekuasaan atau wewenang yang ada pada dirinya, atau dilaporkan kepada pihak yang berwenang untuk ditangani.
  2. Peringatan atau nasehat yang baik yang dalam Alquran disebut mau’idzah al-hasanah.
  3. Ingkar dalam hati, artinya hati kita menolak tidak setuju.

            Dengan demikian Nabi Saw mewajibkan bagi setiap umat tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing.

            Dengan argumentasi di atas, maka hukum dakwah adalah wajib ain. Apalagi dikolerasikan dengan hadis riwayat Imam Muslim tentang kewajiban setiap muslim untuk memerangi kemungkaran dan hadis riwayat Turmudzi tentang siksa Allah bagi orang-orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta diperkuat dengan surah al-Taubah ayat 71 tentang ciri utama orang mukmin adalah amar ma’ruf nahi mungkar.

            Tentu saja kewajiban tersebut sesuai dengan kapasitas kemampuannya, Islam tidak menuntut umat manusia di luar kemampuannya. Kewajiban ini relevan dengan gugurnya kewajiban haji bagi orang yang tidak mampu.

  1. C.     Tujuan Dakwah

 

            Setiap usaha yang dilakukan tentu mempunyai tujuan yang jelas, agar memperoleh hasil tertentu atas usaha yang dilakukan, artinya ada nilai tertentu yang diharapkan dapat tercapai.

            Sebenarnya tujuan dakwah itu adalah sama halnya diturunkannya ajaran Islam bagi umat manusia itu sendiri, yaitu untuk membuat manusia memiliki kualitas akidah, ibadah, serta akhlak yang tinggi.

            Dalam proses penyelenggaraan dakwah, tujuannya adalah merupakan salah satu faktor penting dan sentral, karena pada tujuan itu dilandaskan segenap tindakan dakwah dan merupakan dasar bagi penentuan sasaran dan strategi atau kebijaksanaan serta langkahlangkah operasional dakwah.

            Bisri Afandi mengatakan dalam bukunya Beberapa Percikan Jalan Dakwah bahwa yang diharapkan oleh dakwah adalah terjadinyaperubahan dalam diri manusia, baik kelakuan adil maupun aktual, baikpribadi, maupun keluarga, masyarakat, way of thingking atau caraberpikirnya berubah atau cara hidupnya berubah menjadi lebih baik.Yang dimaksudkan adalah nilai-nilai agama semakin dimiliki banyakorang dalam segala situasi dan kondisi.

            Suatu tujuan yang baik apabila tujuan itu memang menjadi tujuan semua orang, berharga dan bermanfaat bagi manusia, dan bisa dicapai oleh setiap manusia, bukan utopia. Amrullah Ahmad, merumuskan tujuan dakwah, adalah untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan tindakan manusia pada tataran individual dan sosio-kultural dalam rangka terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan. Senada dengan itu, H.M. Arifin, menyatakan bahwa tujuan program kegiatan dakwah adalah untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang dibawakan oleh aparat dakwah.

            Dengan demikian, tujuan dakwah ditekankan pada untuk sikap mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik menjadi lebih baik atau meningkatkan kualitas iman dan Islam tanpa ada tekanan dan paksaan dari siapapun. Begitu pentingnya tujuan dalam setiap aktivitas, maka tujuan itu harus dirumuskan dengan baik sehingga tujuan itu dapat dijadikan sebagai suatu ukuran keberhasilan atau kegagalan. Dalam hal ini merupakan kompas pedoman yang memberikan inspirasi dan motivasi dalam proses penyelenggaraan dakwah. Begitu pula dengan tindakan-tindakan kontrol dan evaluasi, yang menjadi pedoman adalah tujuan itu sendiri.

            Tujuan dakwah merupakan landasan penentuan strategi dan sasaran yang hendak ditempuh harus mempunyai sasaran atau tujuan yang jelas. Dalam komunikasi kelompok, tujuan komunikasi harus sudah ditetapkan terlebih dahulu agar semua anggota kelompok mengetahui dan melaksanakan tugas dan fungsi yang harus mereka kerjakan.

            Mengacu pada pentingnya kedudukan dan peranan tujuan bagi proses pelaksanaan dakwah maka tujuan dakwah haruslah dipahami oleh para pelaku dakwah agar tidak terjadi kesulitan dan kekaburan yang berakibat pula pada timbulnya kekaburan dalam menentukan kebijaksanaan, atas dasar ini sehingga tujuan atau nilai yang hendak dicapai melalui penyelenggaraan dakwah harus dirumuskan. Karena dengan rumusan yang jelas akan memudahkan bagi para pelaku dakwah dalam memahami tujuan yang ingin dicapainya.

            Sementara itu, Abdul Rosyad saleh membagi tujuan dakwah menjadi dua, yaitu tujuan utama dan tujuan departemental. Yang dimaksud tujuan utama dakwah adalah hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh secara keseluruhan tindakan dakwah yaitu terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Sedangkan tujuan departemental ialah nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai oleh Allah Swt sesuai dengan bidangnya masing-masing.

            Di samping tujuan utama, yaitu tujuan akhir dari dakwah terwujudnya individu dan masyarakat yang mampu menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupannya adalah tujuan yang sangat ideal, maka perlu ditentukan tujuan departemental pada tiap-tiap tahap atau tiap-tiap bidang yang menunjang tercapainya tujuan akhir dakwah.

            Dalam kaitan ini, Asmuni Syukir membagi tujuan dakwah yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dakwah merupakan sesuatu yang hendak dicapai dalam aktivitas dakwah. Ini berarti bahwa tujuan dakwah yang masih bersifat umum dan utama dimana seluruh proses dakwah ditujukan dan diarahkan kepadanya. Dengan demikian, tujuan dakwah secara umum mengajak umat manusia kepada jalan yang benar dan diridhai oleh Allah Swt agar dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat.

            Tujuan khusus merupakan perumusan tujuan sebagai perincian daripada tujuan umum dakwah. Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara yang bagaimana dan sebagainya secara terperinci.

Dari penjelasan di atas secara keseluruhan baik tujuan umum dan tujuan khusus dakwah adalah:

  • Mengajak orang-orang non Islam untuk memeluk ajaran Islam (mengislamkan orang-orang non Islam). Firman Allah Swt QS. Ali Imran ayat 20:

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.

  • Mengislamkan orang Islam, artinya meningkatkan kualitas iman, Islam, dan ihsan kaum muslimin, sehingga mereka menjadi orang-orang yang mengamalkan Islam secara keseluruhan (kaffah). Firman Allah Swt QS. al-Baqarah (2): 208;

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

  • Menyebarkan kebaikan dan mencegah timbulnya dan tersebarnya bentuk-bentuk kemaksiatan yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan individu, masyarakat, sehingga menjadi masyarakat yang tentram dan penuh keridhaan Allah Swt.
  • Membentuk individu dan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pegangan dan pandangan hidup dalam segala sendi kehidupan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya.
  • Dakwah diharapkan bertujuan akan mampu mengatasi berbagai krisis yang dihadapi oleh manusia modern, baik krisis identitas, krisis legalitas, krisis panetrasi, krisis partisipasi maupun krisis distribusi. Dengan demikian dakwah islamiyah bukan hanya menyampaikan kalimat tauhid kepada para pendengar, setelah itu membiarkan mereka menafsirkan apa-apa yang telah disampaikan sekehendak hatinya tanpa bimbingan dan arahan, juga bukan hanya menerangkan hukum-hukum syari’at melalui media massa atau sarana informasi lainnya begitu saja tanpa ditindaklanjuti, akan tetapi harus diwujudkan dengan amalan, baik dengan tingkah laku, pergaulan, maupun adanya kesadaran orang tua mendidik putraputrinya serta agar setiap orang berkeinginan mengarahkan orang lain. Dengan adanya tujuan yang ingin dicapai, maka kegiatan dakwah akan lebih terarah sesuai dengan proses kegiatan dakwah yang benar.

 

  1. D.    Implikasi Dakwah (Efek Dakwah)

            Pengaruh dan efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan dari komunikator. Dapat dipahami bahwa bentuk konkrit efek dakwah dapat dilihat dari apakah suatu proses komunikator dapat sampai dan d iterima komunikan, sehingga mengakibatkan efek atau perubahan perilaku komunikan. Perubahan perilaku tersebut meliputi aspek-aspek pengetahuan sikap dan perbuatan komunikan yang mengarah atau mendekati tujuan yang ingin dicapai proses komunikan.

Berkenaan dengan ketiga aspek tersebut, Jalaluddin Rahmat menyatakan bahwa:

  • Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak setelah menerima pesan dakwah melalui proses berfikir.

Berpikir disini menunjukkan sebagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti obyek dan peristiwa. Sedang kegunaan berpikir adalah untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan memecahkan masalah dan menghasilkan karya baru. Jadi dengan menerima pesan melalui kegiatan dakwah, diharapkan akan dapat mengubah cara berpikir seorang tentang ajaran agama sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya seseorang dapat paham atau mengerti setelah melalui proses berpikir.

  • Efek Efektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak, yang meliputi segala yang berhubungan dengan emosi, sikap serta nilai setelah menerima pesan dari komunikator (da’i). Pada tahap ini penerima pesan dakwah dengan pengertian dan pemikirannya terhadap pesan dakwah yang diterimanya akan membuat keputusan untuk menerima atau menolak pesan dakwah.
  • Efek Behavioral ini muncul setelah melalui proses kognitif dan efektif, ini merupakan suatu bentuk efek dakwah yang merujuk pada prilaku nyata yang dapat diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berprilaku yang telah diterima dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada diungkapkan oleh Rahmat Natarojaya, bahwa tingkah laku itu dipengaruhi oleh kognitif yaitu faktor-faktor yang dipahami oleh invidual melalui pengamatan dan tanggapan, efektif yaitu yang dirasakan oleh individual melalui tanggapan dan pengamatan dan dari perasaan itulah muncul keinginan – keinginan dalam individual yan bersangkutan. Kaitannya dengan dakwah, maka efek dakwah tercermin pada sejauhmana obyek dakwah mengalami perubahan, dalam hal makin benar dan lengkapnya aqidah, akhlak, ibadah dan muamalahnya, sementara pada tingkat masyarakat, pengaruhnya tercermin pada iklim sosial yang makin memancarkan syi’ar Islam.

Onong Uchjana Effendy membagi tiga efek antara lain:

  • Efek dalam bentuk responsive

Responsive berarti obyek dakwah atau komunikan dalam istilah komunikasi, secara positif ikut serta atau bersedia melaksanakan (menerima) materi (pesan) yang disampaikan oleh da’i (komunikator) kepadanya.

  • Efek dalam bentuk Feed back

Feed back, adalah arus balik, yakni umpan balik atau tanggapan balik dari obyek dakwah (komunikan) sebagai penerima pesan terhadap pesan yang diterimanya apabila tersampaikan atau disampaikan kepada subyek dakwah sebagai sumber pesan (da’i).

  • Efek dalam bentuk noise

Noise, yaitu gangguan tak terencana yang terjadi ketika proses dakwah dilancarkan sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh mad’u (obyek dakwah) yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh da’I kepadanya.

            Jadi ada tiga kemungkinan efek yang terjadi pada penerima pesan antara lain: pertama obyek menerima atau mau melaksanakan sesuai dengan keinginan subyek dakwah sehingga yang terjadi kemudian adalah perubahan pendapat, perubahan sikap, perubahan perilaku, perubahan sosial. Kedua reaksi yang ditunjukkan oleh obyek dakwah yang kritis terhadap pesan yang diterimanya dan tidak mudah merespon begitu saja akan tetapi melakukan proses terlebih dahulu terhadap pesan yang disampaikan sebelum harus menerima dan melaksanakannya. Ketiga obyek dakwah (komunikan) sebagai penerima pesan bersikap ragu-ragu untuk menerima dan melaksanakan pesan yang disampaikan oleh da’i sebagai akibat dari adanya pesan lain yang diterimanya.

            Da’i harus memperhitungkan tentang efek apa yang timbul setelah materi (pesan) dilontarkan kepada mad’u. Di sinilah pentingnya seorang da’i menguasai psikologi dakwah. Bagi seorang da’i psikologi dakwah dapa membantu membedah suasana bathin dari individu atau masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya, dapat membantu memprediksi perilaku jamaah yang dengan prediksi itu ia menyusun desain acara atau desain program, serta dapat menyusun rumusan.

            H.M. Arifin mengatakan bahwa antara output dengan input terjadi interaksi yang disebut feed back (umpan balik) sebagai pengoreksi lebih lanjut terhadap bahan input yang dimasukkan kedalam proses-proses penerimaan manusia. Bila output tidak sesuai dengan input, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan lebih lanjut. Kalau output sudah tepat atau sudah benar sesuai dengan input maka itu perlu diteruskan dan dikembangkan.

            Berdasarkan uraian diatas maka ada beberapa hal yang diharapkan terjadi perubahan pada obyek dakwah yaitu:

  • Terbentuknya pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat, tertanamnya suatu akidah yang mantap disetiap hati seseorang sehingga keyakinan tentang ajaran Islam tidak lagi dicampuri dengan rasa keragu-raguan. Untuk mengetahui kondisi ini dapat dilihat melalui perbuatannya sehari-hari sebab amal perbuatanlah yang membuktikan keadaan Iman seseorang.
  • Terbentuknya masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana keIslaman yaitu suatu masyarakat yang anggota-anggotanya mematuhi peraturan-peraturan yang disyari’atkan oleh Allah Swt. Realisasinya dapat dilihat melalui adanya kepatuhan terhadap hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah Swt, misalnya dari yang tidak melakukan shalat menjadi orang yang rajin melakukan shalat, dari orang yang tidak patuh kepada peraturan –peraturan agama Islam menjadi patuh terhadap peraturan tersebut dan lain-lain sebagainya.
  • Diharapkan terbentuknya keluarga bahagia, penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota masyarakat (sakinah).
  • Terbentuknya masyarakat yang berakhlakul karimah, yaitu masyarakat yang berbudi luhur, pribadi-pribadi muslim, dihiasi dengan sifat-sifat terpuji.

            Jika perubahan-perubahan tersebut di atas diharapkan pada remaja, maka realisasinya dapat dilihat dari beberapa hal:

  • Bagaimana hubungan dia dengan Tuhannya, misalnya menjadikan dirinya sebagai hamba Allah Swt yang setia dan tulus dan tidak menghambakan dirinya kepada hawa nafsunya atau kepada selain Allah Swt.
  • Bagaimana hubungan dia dengan dirinya, misalnya dengan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji, seperti jujur, berani, mau memelihara kesehatan jasmani dan rohaninya, rajin belajar dan penuh disiplin.
  • Hubungan dia dengan sesama muslim, yaitu mencintai sesame muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri
  • Hubungan dia dengan yaitu tolong-menolong, hormat menghormati, dan memelihara kedamaian bersama.
  • Hubungan dia dengan alam sekelilingnya dalam kehidupan ini, yaitu dengan memelihara kelestarian alam semesta dan mempergunakannya untuk kepentingan umat manusia sebagai bukti kebaktiannya kepada Allah Swt sebagai pencipta alam semesta.

            Jika dakwah telah dapat menyentuh aspek-aspek perubahan tersebut di atas yang dapat mendorong manusia melakukan secara nyata ajaran-ajaran Islam yang telah dipesankan dalam dakwah, maka dakwah dapat dikatakan berhasil dengan baik. Sehingga dapat membentuk masyarakat penuh dengan kedamaian dan ketenangan dengan tegaknya keadilan, saling tolong menolong dan saling hormat menghormati sehingga semua orang (masyarakat) pada umumnya dan remaja pada khususnya dapat menikmati Islam sebagai rahmatan lil al -alamin. Dengan demikian, terwujudlah kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin baik di dunia maupun di akhirat. Kesemuanya ini merupakan implikasi (efek) tujuan akhir dari upaya dakwah.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.KESIMPULAN

                Dakwah secara etimologi adalah mengajak, menyeru, memanggil yang di jelaskan dalam ayat Al Quran yang diserukan untuk menyeru kebaikan kepada orang-orang disekitar kita. Sesuai syariah yang di ajarkan dan dapat istiqomah untuk menjalankannya. Kegiatan ini cukup menjadikan pengaruh positif untuk memperbaiki akhlak. Sumber-sumber yang digunakan untuk berdakwah diantaranya menggunakan Al Qur’an dan Hadist, serta ijma sahabat, ijma ulama, penelitian ilmiah, berita peristiwa, kisah dan pengalaman teladan, karya sastra, dan karya seni.

Pesan-pesan dakwah yang biasa disampaikan oleh para da’I bisa diakatankan berhasil jika pesan yang disampaikan bisa merubah sikap, pola berfikir, dan perilaku mad’u dalam menjalankan aktivitas dalam kehidupan. Menjadikan islam sebagai tolak ukur sebelum melakukan sesuatu.

            Mempunyai keinginan untuk merubah diri dari pemikiran jahliyah kepada fikrul mustanir dengan pemahaman aqidah. Karena itu dapat berpengaruh dalam kehidupan dengan penerapan perilaku sesuai dengan aqidah islamiyah. Imam Sayuti farid secara lebih rincih menerangkan bahwa objek materi ilmu dakwah adalah proses penyampaian ajaran kepada umat manusia, sedangkan objek formalnya adalah proses penyampaian ajaran islam kepada umat manusia. Itulah dakwah yang harus kita sampaikan terus kepada seluruh umat didunia ini dan kita juga harus paham oleh langkah-langkah dakwah yang kita sampaikan sendiri.

 

Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh da’i dengan ilmu dakwahnya saja, tetapi juga harus ditunjang berbagai upaya-upaya yaitu baiknya koordinasi yang dilakukan oleh da’i dengan lembaga  -lembaga terkait, termasuk dengan pemuka-pemuka masyarakat (kerjasama yang baik antara pemerintah, orang tua, guru di sekolah dan da’i), baik bersifat preventif maupun kuratif. Serta penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara optimal.

B.SARAN

 

Kami menyadari bahwa makalah yang kami sajikan ini masih memiliki banyak  kekurangan baik dari teknik penyajian maupun bahasanya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan sumbangsih berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk penyempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Makalah ‘ Problematika Dakwah ‘ tulisan Drs. H. Misbach Malim, Lc. Ketika ada Pelatihan Dakwah di Gd. Teater Fak. Dakwah & Komunikasi lt 2; tanggal  30 Rabi’ul Awal 1428 H / 18 April 2007

sumber Artikel: http://www.pakbendot.com/2012/05/makalah-sistem-dakwah-dalam-analisa.html#ixzz29WkAuRFP

 

 

 
 

ii

 

 

 

 

*~ soal 2 ~*

  1. Tuliskan pengertian sastra anak

Jawab:

Sastra anak adalah karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa lisan maupun tertulis dan dapat ditanggapi  serta dipahami oleh anak-anak dan pada umumnya berangkat dari fakta konkret dan mudah diimajinasikan.

 

  1. Sastra anak memiliki ciri dan jenis sastra anak, kemukakan hal tersebut!

Jawab:

  • Ciri sastra anak
  1. Cerita anak mengandung tema yang mendidik dan menyentuh
  2. Berisi ritme yang meriangkan anak
  3. Sastra anak ceritanya tidak terlalu panjang
  4. Terdapat rima dan bunyi  yang serasi dan indah
  5. Berisi pengetahuan yang dapat menambah wawasan pikiran anak
  6. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak
  • Jenis sastra anak
  1. Realisme

Yaitu sebuah cerita yang mengisahkan berbagai peristiwa, aksi, dan interaksi yang seolah – olah memang benar dan penyelesainnya pun masuk akal dan dapat dipercaya.

  1. Fiksi formula

Yaitu cerita yang terdiri dari dari cerita misteri, detektif, romantic dan novel serial.

  1. Cerita fantasi

Yaitu cerita yang menggambarkan pelaku, peristiwa, maupun latar secara fantastis, dalam arti diluar nalar tetapi mampu menekan ketidak percayaan pembaca sehingga sesuatu sungguh – sunguh tidak akan bias terjadi dalam kehidupan nyata tergambarkan sebagai sesuatu yang seakan – akan bias benar – benar terjadi. Contoh kursi ajaib

  1. Sastra tradisional

Yaitu cerita yang telah mentradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa penciptanya dan dikisahkan secara turun temurun melalui lisan.

  1. Puisi

Yaitu karya sastra dengan bahasa dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata – kata kiasan ( imajinatif )

  1. Non fiksi

Yaitu karya sastra yang dibuat berdasarkan data – data yang otentik tapi dapat juga data itu dikembangkan menurut imajinasi penulis.

 

  1. Apa yang menyebabkan sehingga sebuah buku cerita tidak menarik untuk dibaca?

Jawab:

  1. Penyajian tokoh dalam cerita tersebut terlalu banyak sehingga pembaca agak kesulitan serta bingung dalam memahami cerita tersebut.
  2. Sampulnya tidak begitu bagus dipandang sehingga orang tidak tertarik untuk membacanya.
  3. Penceritaan dan gaya bahasanya kurang bagus untuk dipahami oleh pembaca
  4. Tema dan juduk dari buku tersebut kurang menarik sehingga pembaca malas untuk membacanya.
  5. Penyajian halaman buku cerita tersebut terlalu banyak  atau terlalu tebal  sehingga orang akan berfikir yakni butuh waktu berapa lama untuk menghabiskan membaca buku itu, sebelum mereka mencobanya.
  6. Tuliskan manfaat bacaan sastra anak untuk anak SD kelas awal!

Jawab:

1)        Manfaat estetis, yaitu sastra anak-anak mampu memberikan keindahan bagi pembacanya dalam hal ini anak-anak.

2)        Manfaat pendidikan, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada anak-anak sehingga mereka mengetahui mana moral yang baik dan buruk

3)        Menfaat rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi mereka

4)        Sastra dapat membangkitkan motivasi anak dalam belajar

5)        Sastra anak dapat mengembangkan daya imajinasi anak-anak

 

  1. Bila dibandingkan dengan dongeng, apa tujuan dari mite?

Jawab:

  1. Menggarap tokoh yang hanya berpusat pada seorang pelaku
  2. Menggarap peristiwa yang bersifat khas dan unik sehingga tidak mungkin digambarkan terjadi pada tempat lain
  3. Akhir cerita biasanya bersifat tragis karena tokoh utamanya mati atau mengalami nasib yang menyedihkan
  4. Menggambarkan sikap dan suasana yang pesimistik

 

 

PEMBELAJARAN SASTRA ANAK LINTAS KURIKULUM

 

  1. Sejak kapan anak mulai mengenal atau diperkenalkan pada sastra ?

 Jawab:

Sastra anak sebenarnya sudah ada sejak dahulu, hanya saja perhatian terhadapnya baru gencar beberapa saat ini. Hal ini terbukti dengan berbagai contoh sastra anak seperti cerita seri binatang”si kancil” puisi lagu seperti”keplok ame-ame”,”burung kakatua”,”satu-satu”,dan lainnya.

  1. Tuliskan yang termasuk sastra anak yang berwujud lisan dan tulisan ?

Jawab:

Bacaan komik hadir dengan keunikannya sendiri, tampil dengan deretan gambar-gambar panel-panel dengan sedikit tulisan tangan yang ditempatkan pada balon-balon. Gambar-gambar komik itu sendiri pada umumnya sudah “berbicara” dan dibuat menjadi deretan gambar yang menampilkan alur cerita, komik dikategorikan sebagai sastra. Genre sastra anak dengan berbagai hal yang berbeda dengan sastra dewasa dengan salah satunya adalah masih dominannya unsur gambar dalam sastra anak. Sastra anak terdiri atas berbagai genre dan dapat berwujud lisan dan tertulis.

  1. Tuliskan pengertian dibawah ini dan berikan contohnya ?
    1. Buku Alpabet
    2. Buku Konsep
    3. Buku Berhitung

Jawab:

  1. Buku Alphabet adalah buku yang berisi bagian terkecil dari sebuah bahasa ,      jadi’Alphabet’ yang mengawali adanya penulisan bahasa. Contohnya simbol “a”,”b”,”c”.
  2. Buku konsep adalah buku yang berisi pernyataan yang masih bersifat abstrak/pemikiran untuk mengelompokkan ide-ide atau peristiwa yang masi dalam angan-angan seseorang. Contohnya konsep HAM pada anak.
  3. Buku berhitung adalah buku lain yang juga dipergunakan untuk literasi awal pada anak usia persekolahan atau sekolah kelas awal, yaitu mulai usia sekitar tiga tahun.

*~ soal-jawab ~*

SOAL- JAWAB :

  1. Menurut anda, jenis karya sastra apa yang paling diminati oleh anak?

Jawab :

  1. Puisi  anak :

Puisi anak adalah puisi untuk dikonsumsi anak, yang isinya sesuai dengan lingkungan anak, usia anak dan memiliki nilai-nilai yang dapat membentuk sikap, budi pekerti yang luhur, serta memiliki nilai seni.

  1. Drama anak :

Drama anak-anak adalah proses lakuan anak sebagai tokoh. Dalam berperan, mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang, menggunakan atau memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter dan situasi dalam suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan peristiwa dan rangkaian cerita tertentu

  1. Cerita anak-anak :

cerita anak-anak merupakan cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat yang wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, sehingga cerita anak-anak harus berbicara  tentang kehidupan anak-anak.

Adapun jenis-jenis cerita anak yang cocok untuk SD adalah :

  • Cerita Jenaka :

Cerita jenaka merupakan cerita yang mengungkapkan hal ihwal atau tingkah laku seorang tokoh yang lucu. Kelucuan yang diungkapkan dapat berupa karena kebodohan sang tokoh atau pula karena kecerdikannya.

  • Dongeng :

Dongeng adalah cerita yang didasari atas angan-angan atau khayalan. Dalam dongeng terkandung cerita yang menggambarkan sesuatu diluar nyata, seperti Timun Mas, Putri Salju, Peri yang baik hati, dan sebagainya.

  • Fable :

Fabel adalah cerita yang menampilkan hewan-hewan sebagai tokoh-tokohnya. Di dalam fabel, para hewan atau binatang digambarkan sebagaimana layaknya manusia yang dapat berpikir, bereeksi dan berbicara. Fabel mengandung unsur mendidik karena diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral. Misalnya, “ Kancil dan Kera “, “ Kancil dan Buaya”.

  • Legenda :

Legenda adalah cerita yang berasal dari zaman dahulu. Cerita legenda bertalian dengan sejarah yang sesuai dengan kenyataan yang ada pada alam atau cerita tentang terjadinya suatu negeri, danau atau gunung. Contoh cerita “Malin Kundang”, “Batu Menangis”, Sangkuriang”, “asal Usul Kota Surabaya”

  • Mie atau mitos :

Mite atau mitos merupakan cerita yang berkaitan dengan kepercayaan kuno, menyangkut kehidupan dewa-dewa atau kehidupan makhluk halus. Mitos adalah cerita yang mengandung unsur-unsur misteri, dunia gaib, dan alam dewa.

  1. Sebutkan aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan cerita?

Jawab :

  1. Kejelasan  bahasa :

Yang dipilih harus menggunakan bahasa yang sederhana, lugas. Kalimatnya pendek-pendek, tidak rumit sehingga memudahkan siswa menangkap isinya. Kata-kata yang digunakan bermakna lugas.  Kejelasan bahasa memungkinkan siswa mudah menemukan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.

  1. Kejelasan tema :

Yang dipilih harus mempunyai tema yang terbuka. Artinya, tema dapat ditemukan dengan langsung oleh siswa.

  1. Kesederhanaan plot :

Yang dipilih harus mempunyai plot maju. Maksudnya, rangkaian peristiwa yang membentuk isi cerita tersusun secara kronologis dari awal hingga akhir. Cerita dengan plot maju memungkinkan siswa terkandung dalam cerita itupun mudah ditangkap oleh siswa.

  1. Kejelasan perwatakan :

Perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita yang diplih harus terdeskripsi secara sederhana sehingga siswa dapat dengan mudah dan cepat mengenali tokoh-tokoh itu. Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam cerita itu pun mudahn ditangkap oleh siswa.

  1. Kesederhanaan latar :

Latar atau setting  dalam cerita yang dipilih harus tidak berbeda jauh dengan lingkungan tempat tinggal siswa sehingga mereka merasa akrab dengan suasana dalam cerita itu.

  1. Kejelasan pusat pengisahan :

Pusat pengisahan dalam cerita yang dipilih harus konsisten. Artinya, jangan terlalu banyak terjadi pergantian fokus. Seringnya terjadi pergantian fokus menyulitkan siswa mengikuti jalan ceritnya.

  1. Tuliskan pengertian di bawah ini:

Jawab :

  1. Alur cerita :

ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

  1. Tema :

adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.

  1. Penokohan :

adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita

  1. Latar  :

adalah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi

  1. Bagaimana cara menumbuhkan kemampuan anak SD memahami kasya sastra ?

Jawab :

Cara menumbuhkan kemampuan anak SD untuk memahami karya sastra adalah dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi dalam berbagai jenis karya sastra yang mereka sukai walaupun sebagaimana kita ketahui anak SD  belum mengetahui atau memahami secara utuh bagaimana jenis – jenis karya sastra tersebut. Ajarkan sastra itu seperti sebuah kebebasan, tidak ada tekanan, anak bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Guru juga perlu mengetahui bagaimana karakteristik, ciri khas dan kemampuan yg dimiliki peserta didiknya serta mengembangkan sesuai tahapan usianya. Selain itu, guru harus mencoba memberikan pelajaran – pelajaran  baru tentang sastra yg sesuai dengan bakat dan minat serta menganggap siswa sebagai anak dan sahabat yang dapat menerima segala keluhan – keluhannya.

  1. Tuliskan dan jelaskan tahapan tingkat perkembangan kognitif anak ditinjau dari sudut pandang psikologis

Jawab :

Ditinjau dari sudut pandang psikologis anak ( intelektual anak), tahap perkembangan kognitif anak terdiri dari empat (4) tahapan , yaitu :

  1. Tahap 1: Periode Sensorimotor (sejak kelahiran sampai usia 2 tahun) dicirikan dengan fase interkoordinasi progresif dari skema menjadi lebih komplek dan terintegrasi. Pada fase pertama, respon-respon bersifat bawaan dan berupa refleks-refleks yang tidak disengaja, seperti misalnya menghisap. Pada fase selanjutnya, skema-skema refleks mulai terkontrol secara sadar. Dengan demikian pada fase ini anak sudah mulai bisa membangun pikirannya tentang bagaimana lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor.
  2. Tahap 2: periode pra-operasional (usia 2-7 tahun), perilaku anak berubah dari depedensi tindakan menuju pemanfaatan representasi mental dalam tindakan-tindakannya atau yang bisa disebut berfikir. Namun anak pada tahap pra-operasional belum mengembangkan sistem organisasi pikiran-pikirannya. Ketika kita berada di sekitar mereka dan mereka tidak melihat kita, mereka tidak berfikir bahwa kita dapat melihat mereka. Ini adalah contoh klasik egosentrisme anak pada tahap ini.
  3. Tahap 3: periode operasional konkret (usia 7-11 tahun) adalah tahap penyempurnaan tiga ranah penting dalam pertumbuhan intelektual, yaitu: konservasi, klasivikasi, dan transivias. Konservasi, ranah pertama, adalah kemampuan untuk mentransformasikan sifat objek. Klasifikasi melibatkan pengelompokan dan kategorisasi objek-objek yang mirip. Transitivitas adalah dua kemampuan yang terpisah namun berhubungan.
  4. Tahap 4 : periode tahap Operasional Formal (12-dewasa)

Sekitar usia 12, anak-anak masuk ke tahap baru lebih tinggi kognisi. Pikiran remaja yang sudah mampu memanipulasi representasi mental yang kompleks. Orang dewasa muda menjadi mampu berpikir dalam abstraksi-menggunakan ide-ide, bukan hanya beton benda-cara yang sebelumnya menghindari pegang mereka. Mereka dapat alasan tentang situasi hipotetis dengan presisi dan realisme.

  1. Tuliskan dan jelaskan enam fase dalam perkembangan moral anak!

Jawab :

Ada enam Fase Moral Menurut Kohlberg :

1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

2. Orientasi minat pribadi

3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas

4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial

5. Orientasi kontrak sosial

6. Prinsip etika universal

Dimana, keenam tingkatan tersebut dibagi kedalam 3 tahapan yaitu :

  1. Tahap Pra – Konvensional

Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung.

  1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.
2. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?)

Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

  1. Tahap Konvensional

Pada tahap tiga, orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (sikap anak baik)
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

Pada tahap empat berorientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan). Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

  1. Tahap Pasca – Konvensional

Tahap ke- lima orientasi kontrak sosial, dalam tahap ini, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut – ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak’? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
Prinsip etika universal ( Principled conscience), dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

  1. Kemampuan anak memahami karya sastra juga sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan kemampuan berbahasanya. Menurut anda benarkah itu?

Jawab :

Ya, perkembangan berbahasa anak sangat penting dalam upaya mengembangkan kemampuan apresiasi sastra anak maupun pengalaman bersastra pada anak, karena dengan adanya perkembangan bahasa, seorang anak dapat mengenal dan mengetahui bagaimana bunyi – bunyi kabahasaan, memahami kata – kata , maupun kalimat dari sebuah karya sastra. Karena dengan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan dan memahami bagaimana isi atau makna yang terkandung dalam sutu karya tersebut. Melalui bahasa seorang anak dapat tahu bagaimana simbolis perasaan pengarang atau seorang sastrawan yang tercantum dalam karya sastra yang ia ciptakan. Intinya dengan kemampuan perkembangan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan apa yang ia rasakan pada suatu karya sastra.

SOAL JAWAB

 

SOAL :

  1. Tuliskan pengertian puisi anak !
  2. Tuliskan hakikat dan karakteristik puisi anak !
  3. Apa yang dimaksud pembacaan puisi sebagai kegiatan reseptif dan produktif ?
  4. Menurut anda, apa perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak ?
  5. Tuliskan ciri-ciri puisi anak !

JAWABAN :

  1. Pengertian puisi anak adalah puisi yang ditulis untuk anak dengan bahasa lugas dan mudah dipahami anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak serta akrab dengan dunia anak-anak
  2. Hakikat dan karakteristik puisi anak adalah puisi anak umumnya masih menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu, kata-kata itu juga dirangkai masih seperti struktur asli kalimat.
  3. Membaca puisi disebut sebagai kegiatan reseptif bila pembaca bermaksud memahami makna dan menikmati keindahan sebuah puisi untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, kegiatan membaca puisi disebut sebagai kegiatan produktif bila pembaca mencoba untuk mengkomunikasikan isi puisi (yang dibaca) kepada sejumlah penikmat yang sebagian besar tidak atau belum akrab dengan puisi tersebut.
  4. Perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak adalah puisi anak adalah puisi yang mengacu kepada dunia anak yang berisi tentang kehidupan yang dekat dengan anak seperti dunia bermain, imajinasi yang disesuaikan dengan tingkat pemikiran mereka yang masih sederhana dan bahasa yang digunakan adalah biasanya sederhana dan tidak rumit. Sedangkan puisi remaja dan dewasa hampir sama karena isinya berisi tentang kehidupan yang lebih luas misalnya dunia kerja, dunia kuliah, bahkan dunia malam, karena rasanya tidak etis jika puisi anak berisi tentang kehidupan malam disamping itu bahasa yang digunakan dalam puisi remaja maupun dewasa adalah lazim memakai banyak istilah jika diperlukan yang memperkuat kesan cerita.
  5. Ciri-ciri puisi anak adalah :

ü  Puisi anak adalah puisi yang berisi kegembiraan.

ü  Mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan semangat bermain bahasa.

ü  Harus berupaya memperbaiki ketajaman imajinasi visual dan kata yang dipergunakan mengmbangkan imajinasi, dan melihat serta mendengar kata-kata dalam cara baru.

ü  Menyajikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan sehari-hari.

ü  Ditulis berdasarkan pengalaman anak.

ü  Berbentuk informasi sederhana yang membuat anak dapat menafsir dan menangkap sesuatu dari puisi itu.

ü  Tema puisi harus menyenangkan anak-anak, menyatakan sesuatu kepada anak, menggelitik egonya, mengingat kebahagiaan, menyentuh kejenakaan dan membangkitkan semangat pribadi anak-anak.

ü  Dapat dibaca anak-anak dan mudah dimengerti.

*~ definisi agama, Tuhan, spiritual, & kepercayaan ~*

BAB 1

PENDAHULUAN

Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.

Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.

Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi

Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.

 

 

 

 

  1. A.     Latar belakang masalah

Agama adalah juga fenomena sosial. Agama juga tak hanya ritual, menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya belaka, tapi juga fenomena di luar kategori pengetahuan akademis. Sebagian manusia mempercayai agama, namun tidak pernah melakukan ritual. Yang lain mengaku tidak beragama, namun percaya sepenuhnya terhadap Tuhannya. Di luar itu semua, kita sering menyaksikan, dalam kondisi tertentu –semisal kesulitan hidup atau tertimpa musibah– manusia cenderung berlari kepada agama. Sebaliknya, pada saat dirinya hidup dalam kondisi normal, mereka seringkali tidak peduli terhadap agama, bahkan mengingkari eksistensi Tuhannya.

Berangkat dari fenomena demikian, psikologi agama merupakan salah satu cara bagaimana melihat praktek-praktek keagamaan.

Sebagai gejala psikologi, agama rupanya cukup memberi pengertian tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan bila dicermati lebih jauh, ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, kita bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan.

  1. B.     Perumusan masalah

Adapun masalah yang akan dibahas didalam ini adalah tentang definisi-definisi dan arti-arti dari psikologi agama, juga bagaimana psikologi agama berperan dalam kehidupan,

Juga bagaimana Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

DEFINISI AGAMA , TUHAN, SPIRITUAL, KEPERCAYAAN

  1. A.     AGAMA dan PSIKOLOGI AGAMA

Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau).

Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird). Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley). Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan.

Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang. Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.

Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.

Menurut Einstein , pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm).

Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang.

Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan.

Menurut Oxford English Dictionary, religion represent the human recognition of super human controlling power, and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship, agama menghadirkan ‘ manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.

Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi.

Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.

  1. B.     Tuhan/ God/Allah

Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence, I call it God. Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir , manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agama. Fredrick Schleimacher berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah, kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan suatu kekuasaan yang berada diluar dirinya, berdasarkan rasa ketergantungan ini timbullah konsep tentang Tuhan.

Mengapa manusia ada yang bersifat Atheis , tidak percaya adanya Tuhan, ucapan terkenal sepanjang masa adalah dari seorang yang bernama Nietscshe yang mengatakan “Gott ist Gestorben” Tuhan sudah mati. Paul Vitz yang menceritakan kisah Nietscshe menyampaikan teori kekafiran Nietsche (theory of unbelief) bukan karena perenungan dan penelitian yang sadar , anda tidak percaya kepada agama bukan karena secara ilmah anda menemukan agma itu hanya sekumpulan tahayul, anda menolak agama bukan karena anda alas an rasional ,melainkan fakto psikologis yang tidak anda sadari, Nietsche menolak Tuhan seperti yang diakuinya bukan karena pemikiran tapi karena naluri.  

Kematian ayahnya diusia 36 tahun membawa kesedihan yang mendalam pada diri Niersche. Tidak berbeda dengan Nietsche , maka Freud menulis dalam future of an Illusion bahwa gagasan-gagasan agama muncul dari kebutuhan yang sama seperti yang memunculkan pencapaian peradaban lainnya , yakni dari desakan untuk mempertahankan diri melawan kekuatan alam yang lebih perkasa dan menaklukkan (kepercayaan agama hanyalah) ilusi, pemuasan dari keinginan manusia yang paling tua, paling kuat, dan yang paling penting seperti yang kita ketahui, kesan tidak berdaya yang menakutkan pada masa anak-anak membangkitkan kebutuhan akan perlindungan melalui cinta yang diberikan oleh sang Bapa jadi peraturan Tuhan yang maha kuasa dan Maha pengasih menentramkan ketakutan kira akan bahaya kehidupan. Secara singkat pada waktu kecil anak mengidola ayahnya sebagai pelindung dan pemelihara , ketika posisi anak tidak berdaya, setelah dewasa ketika manusia berhadap dengan kekuatan yang maha perkasa, ia kembali ingat kepada ayahnya, lalu ia berilusi tentang Tuhan yang seperti ayahnya , untuk memenuhi kebutuhan seorang ayah ia menciptakan Tuhan Bapak, manusia diciptakan tidak berdasar citra Tuhan , tetapi Tuhan diciptakan berdasar citra manusia.

Bagaimana Freud seorang psikoterapi dan seorang atheis berpendapat unsur kejiwaan yang menjadi sumber keagamaan ialah sexual (naluri seksual). Berdasarkan libido ini timbullah idea tentang ketuhanan, upacara keagamaan setelah melalui proses Oedipus Complex (sebuah mythos Yunani yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka Oedipus membunuh ayahnya, sehingga setelah membunuh ayah timbul rasa bersalah (sense of guilt) pada diri anak-anak itu. Father Image (citra bapak) setelah membunuh timbul rasa bersalah yang kemudian perasaan itu menimbulkan ide membuat suatu cara penebusan dengan memuja arwah ayah yang telah mereka bunuh, Realisasi dari pembawaan itulah menurutnya sebagai asal upacara keagamaan. Sigmund freud yakin akan kebenaran pendapatnya itu berdasarkan kebencian setiap agama terhadap dosa.

Seperti Nietscshe , Freud memandang ayahnya sebagai bapak yang lemah, pengecut dan berprilaku sexual yang menyimpang , Ia membenci ayahnya dan selanjutnya membenci Tuhan yang tercipta berdasarkan citra ayahnya, Psikoanalis akhirnya membuang Tuhan sebagai sekadar ilusi kekanak-kanakan, bagi freud agama adalah irasional dan patologi, prilaku yang diperteguh , respons pada situasi yang tak terduga dan pemuasan keinginan kekanak-kanakan.

Freud membagi jiwa dalam 3 bagian yang semuanya punya fungsi sendiri-sendiri: Id adalah tempat dorongan naluri (instinct) dan berada dibawah pengawasan proses primer, id bekerja sesuai prinsip kesenangan. Ego (pribadi) tugasnya menghindari ketidak senangan dan rasa nyeri dengan melawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan seperti represi, salah pindah, rasionalisasi dan lain-lain. Ego mulai terbentuk ketika anak berumur 1 tahun. SuperEgo ajaran dan hukuman yang diletakkan kepadanya oleh orang tua dari luar, dimasukan kedalam superego (internalisasi) yang selanjutnya menilai dam membimbing prilakunya dari dalam, biarpun orang tua tidak ada lagi disampingnya, Superego yang mulai terbentuk umur 5 – 6 tahun membantu ego dalam pengawasan dan pelepasan impuls id, mengadung moral, hatinurani, rasa salah.

  1. C.     Spiritual

Definisi spiritual lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion, dibanding dengan kata religion, para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spitual mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku . kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai faktor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi.

Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.

Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit , sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara, Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama , tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Spiritual dapat merupakan eksperesi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang,dan lebih dari pada hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra , perasaan, dan pikiran. Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses , pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan , kedua proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri.

Apakah ada perbedaan antara spiritual dan religius, spiritualitas ádalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang asal , tujuan dan nasib. Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek prilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman , komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) , sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (prilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas . Orang – orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama.

  1. D.    FAITH AND BELIEF

Dalam iman , seorang manusia berkeyakinan bahwa ia berhubungan dengan Allah sendiri, Tuhan sendiri tujuan dan isi iman kepercayaan. . Maka dari itu obyek iman bukanlah pengertian-pengertian, gagasan-gagasan atau ide-ide mengenai Tuhan melainkan Tuhan sendiri. Tuhanlah yang dipercayai manusia, Tuhan dalam kepribadian dan dalam manifestasi-manifestasi-Nya. Antara orang yang beriman dengan Tuhan terdapat hubungan pribadi, bagi orang beriman, Tuhan menjadi tujuan hasrat-hasratnya yang intim , tetapi juga sekaligus penolong yang diandalkannya dalam mengejar kesempurnaan eksistensinya. Oleh karena itu tindakan “percaya “merupakan kenyataan yang kompleks. Didalamnya terdapat keyakinan intelektual, ketaatan yang taqwa dan hubungan cinta kasih. Kompleksitas ini bersesuaian dengan majemuknya faham kebapa ilahi.

Secara Pskologis kita harus membedakan arti kata iman dan percaya. Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu. Misalnya kita percaya besok akan hujan, kepercayaan ini tidak selalu disertai adanya kewajiban terhadap kepercayaan itu Lin dengan iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. Misalnya anda iman kepada Allah ini berarti bukan hanya percaya secara lisan kepadaNya, tapi juga mengandung kesetiaan , kecintaan sebagai implikasi kewajiban kepada si muknin. Kepercayaan bisa menjadi keimanan melalui perkembangan sedikit demi sedikit . Dalam perkembangan ini berperan pengarug orang tua dan lingkungannya. Keimananpun berkembang pula.

  1. E.     Keimanan

W.H. Clark membagi taraf perkembangan keimanan seseorang kedalam 4 level:

  1. Stimulus response verbalism, pada level ini keimanan hanyalah di bibir (anak-anak), mekanismenya disini seperti orang yang belajar, mereka mengulang-ulang perbuatan yang mendapat hadiah dan menghilangkan kata atau perbuatan yang tercela, kata-kata yang menimbulkan rasa aman akan diulang-ulang oleh si anak, dengan demikian timbul rasa aman, kepercayaan yang hanya dibibir akan dikembangkan oleh anak dengan memasukkan kepercayaan itu dalam dirinya, dan ini sangat pendtin untuk menjadi dasar dan sikapnya dan menjadi pegangan hidup.
  2. Intelectual comprehension, Terlihat pada masa remaja, lebih memerlukan intelek dan adanya proses kreatif yang lebih kmpleks dari pada respons bersyarat saja, pikirna dan logika berperan dalam setiap proses keimanan, jiwa mula-mula percaya, timbul kebimbangan, kemudian proses berfikir timbul kepercayaan yang baru atau insight baru sebagai sintesa dari kepercayaan yang ada dan kebimbangan
  3. Behavioral demonstration, Pada level ini sebagai akibat kepercayaan yang kuat akan keimanan seorang terlihat dalam timdakannya. Tingkah laku lebih menunjukan kesungguhan adanya keimanan daripada sekedar ucapan-ucapan saja, behavior demonstraton contoh nya pada sufi/mistikus yang teguh imannya.
  4. Comprehensive integration, Hal-hal yang termasuk ketiga level diatas merupakan penampilan aspek-aspek saja dari pada kepercayaan . Disamping tiu yang lebih dalam ialah yang mencakup ketiga-tiganya menjadi satu kesatuan, baik kata-kata , pemikiran dan juga perbuatan di integrasikan untuk mebentuk satu kesatuan dalam diri individu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi

Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya

Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban

Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)

Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence, I call it God

Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir , manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agamaMenurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang

Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu.

Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Drs H. Ahmad Fauzi , Psikologi Umum Pustaka setia Bandung, 2004

Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan 2004

Dr. Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, penerbit Kanisius,

Davic Fontana, Psychology , Religion and spirituality, Bps Blackwell, 2003

Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu , Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979

Prof Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama , Kalam Mulia 2004

Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung

Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

 

 

 

*~ pembelajaran terpadu ~*

KATA PENGANTAR

 

 
   

 

 

 

Alhamdulillahi Rabbil alamin, Segala Puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah, yang baik dan yang didalamnya penuh barakah, selaras dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya, sehingga kami telah berhasil menyusun makalah pembelajaran terpadu yang berjudul “konsep dasar pembelajaran terpadu”.

            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Makalah ini telah banyak sumbangsih yang diterima baik berupa tenaga, motivasi, pikiran dan materi dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian Makalah ini.

Tiada yang sempurna di muka bumi ini, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, apa yang kami sajikan dalam makalah ini sesungguhnya masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa penulis nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalam….

                                                                                               

Makassar,     Mei 2012

                                                                                                           

 

  Kelompok 1

 

 

 

 

 

 

 
 

i

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..              i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………..              ii

BAB I   PENDAHULUAN ………………………………………………………………….             1

             I.1.     Latar Belakang ………………………………………………………………………             1

             I.2.      Rumusan Masalah………………………………………………………………….             2

             I.3.      Tujuan………………………………………………………………………………….             2

BAB II  PEMBAHASAN ……………………………………………………………………             3

           II.1. Pengertian Pembelajaran Terpadu ……………………………………………….             3

           II.2. Karakeristik Pembelajaran Terpadu  ……………………………………………             4

           II.3. Landasan Pembelajaran Terpadu…………………………………………………             5

           II.4. Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu…………………………………………..             7

           II.5. Manfaat Pembelajaran Terpadu…………………………………………………..             7

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………             9

        III.1.     Kesimpulan                ……………………………………………………………..             9

         III.2.     Saran                         ……………………………………………………………..             9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………           10

 

 

 

 

 
 

ii

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      LATAR BELAKANG

Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. PP no. 19 ini memberikan arahan tentang delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) standar proses; (c) standar kompetensi lulusan; (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e) standar sarana dan prasarana; (f) standar pengelolaan; (g) standar pembiayaan; dan (h) standar penilaian pendidikan.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk taman kanak-kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas awal sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat penting untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, agar pembelajaran di kelas tidak monoton, menyenangkan serta bermakna bagi kehidupan peserta didik.

  1. B.      RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
  2. Sebutkan karakterisik dari pembelajaran terpadu?
  3. Sebutkan landasan-landasan dari pembelajaran terpadu?
  4. Bagaimanakah prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu?
  5. Apakah manfaat dari pembelajaran terpadu?

C.    Tujuan Penulisan

Dari uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan pengertian pembelajaran terpadu.
  2. Untuk mendeskripsikan karakterisik dari pembelajaran terpadu.
  3. Untuk menidentifikasi landasan-landasan dari pembelajaran terpadu.
  4. Untuk menidentifikasi prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu.
  5. Untuk menguraikan manfaat dari  pembelajaran terpadu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

BAB II

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU

  1. A.      PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat dua istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang saling terkait dan ketergantungan satu sama lain, yaitu integrated curriculum (kurikulum terpadu) dan integrated learning ( pembelajaran terpadu). Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, keterampilan, dan sikap (Wolfinger, 1994: 133). Rasional pemaduan itu antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kebanyakan masalah dan pengalaman (termasuk pengalaman belajar) bersifat interdisipliner, sehingga untuk memahami, mempelajari, dan memecahkannya diperlukan multi-skill.
  2. Adanya tuntunan interaksi kolaboratif yang tinggi dalam memecahkan berbagai masalah.
  3. Memudahkan anak membuat hubungan antarskemata dan transfer pemahaman antarkonteks.
  4. Demi efisiensi.
  5. Adanya tuntunan keterlibatan anak yang tinggi dalam proses pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut di atas, pembelajaran terpadu banyak dipengaruhi oleh eksplorasi topik yang ada di dalam kurikulum sehingga anak dapat belajar menghubungkan proses da nisi pembelajaran sastra lintas disiplin dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulumterpadu dan pembelajaran terpadu terletak pada segi perencanaan dan pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran terpadu seharusnya bertolak dari kurikulum terpadu, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak kurikulum yang memisahkan mata pelajaran satu dengan lainnya menuntut pembelajaran yang sifatnya terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkan (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai:

  1. Suatu pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak,
  2. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan),
  3. Merakit dan menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari mata pelajaran yang bersangkutan maupun dari mata pelajaran yang lainnya.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi Gestalt, termasuk teori piget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.

  1. B.      KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TERPADU

Penerapan pendekatan terpadu disekolah dasar bisa disebut sebagai suatu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama dalam rangka mengurangi gejala penjejalan isi kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka.

Terdapat beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran terpadu, yaitu:

  1. 1.       Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa (student centered),
  2. 2.       Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences),
  3. 3.       Dalam pembelajaran terpadu pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
  4. 4.       Pembelajaran terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses mata pelajaran,
  5. 5.       Pembelajaran terpadu bersifat luwes,
  6. 6.       Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

 

Adapun kelebihan  dari pembelajaran terpadu, yaitu :

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan siswa.
  2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi siswa sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir siswa.
  5. Menyajikan kegiatan-kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dengan lingkungannya.
  6. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial siswa seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain.

Selain beberapakekuatan atau kelebihan di atas,  penerapan pembelajaran terpadu di sekolah dasar memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaanya, diantaranya :

  1. Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa dalam kurikulum sekolah dasar tahun 1994 masih terpisah-pisah ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada.
  2. Semua pelaksanaan pembelajaran terpadu dibutuhkan sarana dan prasarana belajar yang memadai untuk mencapai kompetensi dasar secara optimal.
  3. Belum semua guru sekolah dasar memahami konsep pembelajaran terpadu ini secara utuh, bahkan ada kecenderungan yang menjadi kendala utama dalam pelaksanaannya.

 

  1. C.      LANDASAN PEMBELAJARAN TERPADU

Dalam setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar, guru harus mempertimbangkan banyak factor. Selain karena pembelajaran itu pada dasarnya merupakan implementasi dari kurikulum yang berlaku, juga selalu membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan atas hasil-hasil pemikiran yang mendalam.

Landasan-landasan yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam pelaksanaanpembelajaran terpadu di sekolah dasar meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis.

  1. 1.       Landasan Filosofis

 

Secara filosofis, kemunculan pembelajaran terpadu sangat dipengaruhi oleh tiga alitan filsafat berikut:

  1. Aliran Progresivisme, beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya ditekankan pada (1) pembentuykan kreativitas, (2) pemberian sejumlah kegiatan, (3) suasana yang alamiah, dan (4) memperhatikan pengalaman siswa.
  2. Aliran konstruktivisme, melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran.
  3. Aliran Humanisme, melihat siswa dari segi: (1) keunikan, (2) potensinya, dan (3) motivasi yang dimiliki.

 

  1. 2.       Landasan psikologis

Pandangan psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri.
  2. Pikiran seseorang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan yang ada,
  3. Siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
  4. Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh.

 

  1. 3.       Landasan Praktis

Landasan praktis yang digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah:

  1. Pengetahuan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
  2. Hampir semua pelajaran di sekolah diberika secara terpisah satu bsama lain, padahal seharusnya saling terkait.
  3. Permasalahan yang muncul cenderung bersifgat lintas mata pelajaran sehinnga diperlukan usaha kolaboratif.
  4. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa akan mampu berpikir teiritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.

 

Dengan memahami berbagai landasan diatas, mudah-mudahan kita semakin meyakini akan pentingnya pelaksanaan pembelajaran terpadu di sekolah dasar kita masing-masing.

  1. D.      PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terpadu sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Tema hendaknya tidak terlalu luas,
  2. Tema harus bermakna,
  3. Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa,
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa,
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar,
  6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat,
  7. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Guru hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi single actor yang mendominasi aktovitas dalam proses pembelajaran,
  2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok,
  3. Guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran.

Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu, perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self-evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya,
  2. Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan atau kompetensi yang telah disepakati.

 

  1. E.       MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU

Di bawaha ini di uraikan beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain :

  1. Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang-tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan,
  2. Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat dari pada tujuan akhir itu sendiri,
  3. Pembelajaran terpadu dapat meningkatkan taraf kecakapan berpikir siswa.
  4. Kemungkinan pembelajaran yang terpotong-potong sedikit sekali terjadi,
  5. Pembelajaran terpadu memberikan terapan-terapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer pembelajaran,
  6. Dengan pemaduan pembelajaran antarmata pelajaran diharapkan penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat,
  7. Pengalaman belajar antarmata pelajaran sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,
  8. Motivasi belajar dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam pembelajaran antarmata pelajaran,
  9. Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetahuan awal siswa yang dapat menjembatani pemahaman yang terkait,
  10. Melalui pembelajaran terpadu terhadi kerjasama yang lebih meningkat antara para guru, para siswa, guru-siswa dan siswa-orang/nara sumber lain.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.      KESIMPULAN

Dunia pendidikan sekarang ini semakin maju, dengan menggunakan metode-metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dua istilah yang digunakan di sini adalah kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu yang keduanya secara konsepsi berbeda dari segi perencanaan dan pelaksanaannya, namun secara ideal keduanya saling berhubungan. Pembelajaran terpadu sebaiknya bertolak dari kurikulum terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan aktivitas berpikir dalam merancang butir-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik maupun pemahaman dan keterampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran yang utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain, pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa secara simultan.

Pembelajaran terpadu dilandasi oleh landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis. Landasan filosofis mencakup progresivisme, konstruksivisme, dan humanism. Landasan psikologis mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Landasan praktis dilandasi prinsip-prinsip dunia pengetahuan, pemberian pelajaran di sekolah secara terpisah, kolaborasi antara teori dan praktek.

 

  1. B.      SARAN

Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Resmini, Novi dkk. 2008. Pembelajaran Terpadu di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Indrawati. 2009. Model pembelajaran terpadu di sekolah dasar. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

Sutrisno, Ary. 2010. http://www.docstoc.com/docs/KONSEP-PEMBELTERPADU  (diakses pada tanggal 02 mei 2012).