*~ pembelajaran terpadu ~*

KATA PENGANTAR

 

 
   

 

 

 

Alhamdulillahi Rabbil alamin, Segala Puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah, yang baik dan yang didalamnya penuh barakah, selaras dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya, sehingga kami telah berhasil menyusun makalah pembelajaran terpadu yang berjudul “konsep dasar pembelajaran terpadu”.

            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Makalah ini telah banyak sumbangsih yang diterima baik berupa tenaga, motivasi, pikiran dan materi dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian Makalah ini.

Tiada yang sempurna di muka bumi ini, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, apa yang kami sajikan dalam makalah ini sesungguhnya masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa penulis nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalam….

                                                                                               

Makassar,     Mei 2012

                                                                                                           

 

  Kelompok 1

 

 

 

 

 

 

 
 

i

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..              i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………..              ii

BAB I   PENDAHULUAN ………………………………………………………………….             1

             I.1.     Latar Belakang ………………………………………………………………………             1

             I.2.      Rumusan Masalah………………………………………………………………….             2

             I.3.      Tujuan………………………………………………………………………………….             2

BAB II  PEMBAHASAN ……………………………………………………………………             3

           II.1. Pengertian Pembelajaran Terpadu ……………………………………………….             3

           II.2. Karakeristik Pembelajaran Terpadu  ……………………………………………             4

           II.3. Landasan Pembelajaran Terpadu…………………………………………………             5

           II.4. Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu…………………………………………..             7

           II.5. Manfaat Pembelajaran Terpadu…………………………………………………..             7

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………             9

        III.1.     Kesimpulan                ……………………………………………………………..             9

         III.2.     Saran                         ……………………………………………………………..             9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………           10

 

 

 

 

 
 

ii

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      LATAR BELAKANG

Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. PP no. 19 ini memberikan arahan tentang delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) standar proses; (c) standar kompetensi lulusan; (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e) standar sarana dan prasarana; (f) standar pengelolaan; (g) standar pembiayaan; dan (h) standar penilaian pendidikan.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk taman kanak-kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas awal sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat penting untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, agar pembelajaran di kelas tidak monoton, menyenangkan serta bermakna bagi kehidupan peserta didik.

  1. B.      RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
  2. Sebutkan karakterisik dari pembelajaran terpadu?
  3. Sebutkan landasan-landasan dari pembelajaran terpadu?
  4. Bagaimanakah prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu?
  5. Apakah manfaat dari pembelajaran terpadu?

C.    Tujuan Penulisan

Dari uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan pengertian pembelajaran terpadu.
  2. Untuk mendeskripsikan karakterisik dari pembelajaran terpadu.
  3. Untuk menidentifikasi landasan-landasan dari pembelajaran terpadu.
  4. Untuk menidentifikasi prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu.
  5. Untuk menguraikan manfaat dari  pembelajaran terpadu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

BAB II

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU

  1. A.      PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat dua istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang saling terkait dan ketergantungan satu sama lain, yaitu integrated curriculum (kurikulum terpadu) dan integrated learning ( pembelajaran terpadu). Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, keterampilan, dan sikap (Wolfinger, 1994: 133). Rasional pemaduan itu antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kebanyakan masalah dan pengalaman (termasuk pengalaman belajar) bersifat interdisipliner, sehingga untuk memahami, mempelajari, dan memecahkannya diperlukan multi-skill.
  2. Adanya tuntunan interaksi kolaboratif yang tinggi dalam memecahkan berbagai masalah.
  3. Memudahkan anak membuat hubungan antarskemata dan transfer pemahaman antarkonteks.
  4. Demi efisiensi.
  5. Adanya tuntunan keterlibatan anak yang tinggi dalam proses pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut di atas, pembelajaran terpadu banyak dipengaruhi oleh eksplorasi topik yang ada di dalam kurikulum sehingga anak dapat belajar menghubungkan proses da nisi pembelajaran sastra lintas disiplin dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulumterpadu dan pembelajaran terpadu terletak pada segi perencanaan dan pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran terpadu seharusnya bertolak dari kurikulum terpadu, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak kurikulum yang memisahkan mata pelajaran satu dengan lainnya menuntut pembelajaran yang sifatnya terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkan (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai:

  1. Suatu pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak,
  2. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan),
  3. Merakit dan menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari mata pelajaran yang bersangkutan maupun dari mata pelajaran yang lainnya.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi Gestalt, termasuk teori piget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.

  1. B.      KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TERPADU

Penerapan pendekatan terpadu disekolah dasar bisa disebut sebagai suatu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama dalam rangka mengurangi gejala penjejalan isi kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka.

Terdapat beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran terpadu, yaitu:

  1. 1.       Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa (student centered),
  2. 2.       Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences),
  3. 3.       Dalam pembelajaran terpadu pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
  4. 4.       Pembelajaran terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses mata pelajaran,
  5. 5.       Pembelajaran terpadu bersifat luwes,
  6. 6.       Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

 

Adapun kelebihan  dari pembelajaran terpadu, yaitu :

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan siswa.
  2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi siswa sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir siswa.
  5. Menyajikan kegiatan-kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dengan lingkungannya.
  6. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial siswa seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain.

Selain beberapakekuatan atau kelebihan di atas,  penerapan pembelajaran terpadu di sekolah dasar memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaanya, diantaranya :

  1. Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa dalam kurikulum sekolah dasar tahun 1994 masih terpisah-pisah ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada.
  2. Semua pelaksanaan pembelajaran terpadu dibutuhkan sarana dan prasarana belajar yang memadai untuk mencapai kompetensi dasar secara optimal.
  3. Belum semua guru sekolah dasar memahami konsep pembelajaran terpadu ini secara utuh, bahkan ada kecenderungan yang menjadi kendala utama dalam pelaksanaannya.

 

  1. C.      LANDASAN PEMBELAJARAN TERPADU

Dalam setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar, guru harus mempertimbangkan banyak factor. Selain karena pembelajaran itu pada dasarnya merupakan implementasi dari kurikulum yang berlaku, juga selalu membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan atas hasil-hasil pemikiran yang mendalam.

Landasan-landasan yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam pelaksanaanpembelajaran terpadu di sekolah dasar meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis.

  1. 1.       Landasan Filosofis

 

Secara filosofis, kemunculan pembelajaran terpadu sangat dipengaruhi oleh tiga alitan filsafat berikut:

  1. Aliran Progresivisme, beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya ditekankan pada (1) pembentuykan kreativitas, (2) pemberian sejumlah kegiatan, (3) suasana yang alamiah, dan (4) memperhatikan pengalaman siswa.
  2. Aliran konstruktivisme, melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran.
  3. Aliran Humanisme, melihat siswa dari segi: (1) keunikan, (2) potensinya, dan (3) motivasi yang dimiliki.

 

  1. 2.       Landasan psikologis

Pandangan psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri.
  2. Pikiran seseorang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan yang ada,
  3. Siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
  4. Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh.

 

  1. 3.       Landasan Praktis

Landasan praktis yang digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah:

  1. Pengetahuan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
  2. Hampir semua pelajaran di sekolah diberika secara terpisah satu bsama lain, padahal seharusnya saling terkait.
  3. Permasalahan yang muncul cenderung bersifgat lintas mata pelajaran sehinnga diperlukan usaha kolaboratif.
  4. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa akan mampu berpikir teiritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.

 

Dengan memahami berbagai landasan diatas, mudah-mudahan kita semakin meyakini akan pentingnya pelaksanaan pembelajaran terpadu di sekolah dasar kita masing-masing.

  1. D.      PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terpadu sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Tema hendaknya tidak terlalu luas,
  2. Tema harus bermakna,
  3. Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa,
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa,
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar,
  6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat,
  7. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Guru hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi single actor yang mendominasi aktovitas dalam proses pembelajaran,
  2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok,
  3. Guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran.

Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu, perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self-evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya,
  2. Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan atau kompetensi yang telah disepakati.

 

  1. E.       MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU

Di bawaha ini di uraikan beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain :

  1. Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang-tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan,
  2. Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat dari pada tujuan akhir itu sendiri,
  3. Pembelajaran terpadu dapat meningkatkan taraf kecakapan berpikir siswa.
  4. Kemungkinan pembelajaran yang terpotong-potong sedikit sekali terjadi,
  5. Pembelajaran terpadu memberikan terapan-terapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer pembelajaran,
  6. Dengan pemaduan pembelajaran antarmata pelajaran diharapkan penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat,
  7. Pengalaman belajar antarmata pelajaran sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,
  8. Motivasi belajar dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam pembelajaran antarmata pelajaran,
  9. Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetahuan awal siswa yang dapat menjembatani pemahaman yang terkait,
  10. Melalui pembelajaran terpadu terhadi kerjasama yang lebih meningkat antara para guru, para siswa, guru-siswa dan siswa-orang/nara sumber lain.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.      KESIMPULAN

Dunia pendidikan sekarang ini semakin maju, dengan menggunakan metode-metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dua istilah yang digunakan di sini adalah kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu yang keduanya secara konsepsi berbeda dari segi perencanaan dan pelaksanaannya, namun secara ideal keduanya saling berhubungan. Pembelajaran terpadu sebaiknya bertolak dari kurikulum terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan aktivitas berpikir dalam merancang butir-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik maupun pemahaman dan keterampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran yang utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain, pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa secara simultan.

Pembelajaran terpadu dilandasi oleh landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis. Landasan filosofis mencakup progresivisme, konstruksivisme, dan humanism. Landasan psikologis mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Landasan praktis dilandasi prinsip-prinsip dunia pengetahuan, pemberian pelajaran di sekolah secara terpisah, kolaborasi antara teori dan praktek.

 

  1. B.      SARAN

Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Resmini, Novi dkk. 2008. Pembelajaran Terpadu di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Indrawati. 2009. Model pembelajaran terpadu di sekolah dasar. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

Sutrisno, Ary. 2010. http://www.docstoc.com/docs/KONSEP-PEMBELTERPADU  (diakses pada tanggal 02 mei 2012).

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s