Archive | Juni 2012

*~ soal 2 ~*

  1. Tuliskan pengertian sastra anak

Jawab:

Sastra anak adalah karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa lisan maupun tertulis dan dapat ditanggapi  serta dipahami oleh anak-anak dan pada umumnya berangkat dari fakta konkret dan mudah diimajinasikan.

 

  1. Sastra anak memiliki ciri dan jenis sastra anak, kemukakan hal tersebut!

Jawab:

  • Ciri sastra anak
  1. Cerita anak mengandung tema yang mendidik dan menyentuh
  2. Berisi ritme yang meriangkan anak
  3. Sastra anak ceritanya tidak terlalu panjang
  4. Terdapat rima dan bunyi  yang serasi dan indah
  5. Berisi pengetahuan yang dapat menambah wawasan pikiran anak
  6. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak
  • Jenis sastra anak
  1. Realisme

Yaitu sebuah cerita yang mengisahkan berbagai peristiwa, aksi, dan interaksi yang seolah – olah memang benar dan penyelesainnya pun masuk akal dan dapat dipercaya.

  1. Fiksi formula

Yaitu cerita yang terdiri dari dari cerita misteri, detektif, romantic dan novel serial.

  1. Cerita fantasi

Yaitu cerita yang menggambarkan pelaku, peristiwa, maupun latar secara fantastis, dalam arti diluar nalar tetapi mampu menekan ketidak percayaan pembaca sehingga sesuatu sungguh – sunguh tidak akan bias terjadi dalam kehidupan nyata tergambarkan sebagai sesuatu yang seakan – akan bias benar – benar terjadi. Contoh kursi ajaib

  1. Sastra tradisional

Yaitu cerita yang telah mentradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa penciptanya dan dikisahkan secara turun temurun melalui lisan.

  1. Puisi

Yaitu karya sastra dengan bahasa dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata – kata kiasan ( imajinatif )

  1. Non fiksi

Yaitu karya sastra yang dibuat berdasarkan data – data yang otentik tapi dapat juga data itu dikembangkan menurut imajinasi penulis.

 

  1. Apa yang menyebabkan sehingga sebuah buku cerita tidak menarik untuk dibaca?

Jawab:

  1. Penyajian tokoh dalam cerita tersebut terlalu banyak sehingga pembaca agak kesulitan serta bingung dalam memahami cerita tersebut.
  2. Sampulnya tidak begitu bagus dipandang sehingga orang tidak tertarik untuk membacanya.
  3. Penceritaan dan gaya bahasanya kurang bagus untuk dipahami oleh pembaca
  4. Tema dan juduk dari buku tersebut kurang menarik sehingga pembaca malas untuk membacanya.
  5. Penyajian halaman buku cerita tersebut terlalu banyak  atau terlalu tebal  sehingga orang akan berfikir yakni butuh waktu berapa lama untuk menghabiskan membaca buku itu, sebelum mereka mencobanya.
  6. Tuliskan manfaat bacaan sastra anak untuk anak SD kelas awal!

Jawab:

1)        Manfaat estetis, yaitu sastra anak-anak mampu memberikan keindahan bagi pembacanya dalam hal ini anak-anak.

2)        Manfaat pendidikan, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada anak-anak sehingga mereka mengetahui mana moral yang baik dan buruk

3)        Menfaat rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi mereka

4)        Sastra dapat membangkitkan motivasi anak dalam belajar

5)        Sastra anak dapat mengembangkan daya imajinasi anak-anak

 

  1. Bila dibandingkan dengan dongeng, apa tujuan dari mite?

Jawab:

  1. Menggarap tokoh yang hanya berpusat pada seorang pelaku
  2. Menggarap peristiwa yang bersifat khas dan unik sehingga tidak mungkin digambarkan terjadi pada tempat lain
  3. Akhir cerita biasanya bersifat tragis karena tokoh utamanya mati atau mengalami nasib yang menyedihkan
  4. Menggambarkan sikap dan suasana yang pesimistik

 

 

PEMBELAJARAN SASTRA ANAK LINTAS KURIKULUM

 

  1. Sejak kapan anak mulai mengenal atau diperkenalkan pada sastra ?

 Jawab:

Sastra anak sebenarnya sudah ada sejak dahulu, hanya saja perhatian terhadapnya baru gencar beberapa saat ini. Hal ini terbukti dengan berbagai contoh sastra anak seperti cerita seri binatang”si kancil” puisi lagu seperti”keplok ame-ame”,”burung kakatua”,”satu-satu”,dan lainnya.

  1. Tuliskan yang termasuk sastra anak yang berwujud lisan dan tulisan ?

Jawab:

Bacaan komik hadir dengan keunikannya sendiri, tampil dengan deretan gambar-gambar panel-panel dengan sedikit tulisan tangan yang ditempatkan pada balon-balon. Gambar-gambar komik itu sendiri pada umumnya sudah “berbicara” dan dibuat menjadi deretan gambar yang menampilkan alur cerita, komik dikategorikan sebagai sastra. Genre sastra anak dengan berbagai hal yang berbeda dengan sastra dewasa dengan salah satunya adalah masih dominannya unsur gambar dalam sastra anak. Sastra anak terdiri atas berbagai genre dan dapat berwujud lisan dan tertulis.

  1. Tuliskan pengertian dibawah ini dan berikan contohnya ?
    1. Buku Alpabet
    2. Buku Konsep
    3. Buku Berhitung

Jawab:

  1. Buku Alphabet adalah buku yang berisi bagian terkecil dari sebuah bahasa ,      jadi’Alphabet’ yang mengawali adanya penulisan bahasa. Contohnya simbol “a”,”b”,”c”.
  2. Buku konsep adalah buku yang berisi pernyataan yang masih bersifat abstrak/pemikiran untuk mengelompokkan ide-ide atau peristiwa yang masi dalam angan-angan seseorang. Contohnya konsep HAM pada anak.
  3. Buku berhitung adalah buku lain yang juga dipergunakan untuk literasi awal pada anak usia persekolahan atau sekolah kelas awal, yaitu mulai usia sekitar tiga tahun.

*~ soal-jawab ~*

SOAL- JAWAB :

  1. Menurut anda, jenis karya sastra apa yang paling diminati oleh anak?

Jawab :

  1. Puisi  anak :

Puisi anak adalah puisi untuk dikonsumsi anak, yang isinya sesuai dengan lingkungan anak, usia anak dan memiliki nilai-nilai yang dapat membentuk sikap, budi pekerti yang luhur, serta memiliki nilai seni.

  1. Drama anak :

Drama anak-anak adalah proses lakuan anak sebagai tokoh. Dalam berperan, mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang, menggunakan atau memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter dan situasi dalam suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan peristiwa dan rangkaian cerita tertentu

  1. Cerita anak-anak :

cerita anak-anak merupakan cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat yang wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, sehingga cerita anak-anak harus berbicara  tentang kehidupan anak-anak.

Adapun jenis-jenis cerita anak yang cocok untuk SD adalah :

  • Cerita Jenaka :

Cerita jenaka merupakan cerita yang mengungkapkan hal ihwal atau tingkah laku seorang tokoh yang lucu. Kelucuan yang diungkapkan dapat berupa karena kebodohan sang tokoh atau pula karena kecerdikannya.

  • Dongeng :

Dongeng adalah cerita yang didasari atas angan-angan atau khayalan. Dalam dongeng terkandung cerita yang menggambarkan sesuatu diluar nyata, seperti Timun Mas, Putri Salju, Peri yang baik hati, dan sebagainya.

  • Fable :

Fabel adalah cerita yang menampilkan hewan-hewan sebagai tokoh-tokohnya. Di dalam fabel, para hewan atau binatang digambarkan sebagaimana layaknya manusia yang dapat berpikir, bereeksi dan berbicara. Fabel mengandung unsur mendidik karena diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral. Misalnya, “ Kancil dan Kera “, “ Kancil dan Buaya”.

  • Legenda :

Legenda adalah cerita yang berasal dari zaman dahulu. Cerita legenda bertalian dengan sejarah yang sesuai dengan kenyataan yang ada pada alam atau cerita tentang terjadinya suatu negeri, danau atau gunung. Contoh cerita “Malin Kundang”, “Batu Menangis”, Sangkuriang”, “asal Usul Kota Surabaya”

  • Mie atau mitos :

Mite atau mitos merupakan cerita yang berkaitan dengan kepercayaan kuno, menyangkut kehidupan dewa-dewa atau kehidupan makhluk halus. Mitos adalah cerita yang mengandung unsur-unsur misteri, dunia gaib, dan alam dewa.

  1. Sebutkan aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam menilai sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan cerita?

Jawab :

  1. Kejelasan  bahasa :

Yang dipilih harus menggunakan bahasa yang sederhana, lugas. Kalimatnya pendek-pendek, tidak rumit sehingga memudahkan siswa menangkap isinya. Kata-kata yang digunakan bermakna lugas.  Kejelasan bahasa memungkinkan siswa mudah menemukan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.

  1. Kejelasan tema :

Yang dipilih harus mempunyai tema yang terbuka. Artinya, tema dapat ditemukan dengan langsung oleh siswa.

  1. Kesederhanaan plot :

Yang dipilih harus mempunyai plot maju. Maksudnya, rangkaian peristiwa yang membentuk isi cerita tersusun secara kronologis dari awal hingga akhir. Cerita dengan plot maju memungkinkan siswa terkandung dalam cerita itupun mudah ditangkap oleh siswa.

  1. Kejelasan perwatakan :

Perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita yang diplih harus terdeskripsi secara sederhana sehingga siswa dapat dengan mudah dan cepat mengenali tokoh-tokoh itu. Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam cerita itu pun mudahn ditangkap oleh siswa.

  1. Kesederhanaan latar :

Latar atau setting  dalam cerita yang dipilih harus tidak berbeda jauh dengan lingkungan tempat tinggal siswa sehingga mereka merasa akrab dengan suasana dalam cerita itu.

  1. Kejelasan pusat pengisahan :

Pusat pengisahan dalam cerita yang dipilih harus konsisten. Artinya, jangan terlalu banyak terjadi pergantian fokus. Seringnya terjadi pergantian fokus menyulitkan siswa mengikuti jalan ceritnya.

  1. Tuliskan pengertian di bawah ini:

Jawab :

  1. Alur cerita :

ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

  1. Tema :

adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.

  1. Penokohan :

adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita

  1. Latar  :

adalah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi

  1. Bagaimana cara menumbuhkan kemampuan anak SD memahami kasya sastra ?

Jawab :

Cara menumbuhkan kemampuan anak SD untuk memahami karya sastra adalah dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi dalam berbagai jenis karya sastra yang mereka sukai walaupun sebagaimana kita ketahui anak SD  belum mengetahui atau memahami secara utuh bagaimana jenis – jenis karya sastra tersebut. Ajarkan sastra itu seperti sebuah kebebasan, tidak ada tekanan, anak bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Guru juga perlu mengetahui bagaimana karakteristik, ciri khas dan kemampuan yg dimiliki peserta didiknya serta mengembangkan sesuai tahapan usianya. Selain itu, guru harus mencoba memberikan pelajaran – pelajaran  baru tentang sastra yg sesuai dengan bakat dan minat serta menganggap siswa sebagai anak dan sahabat yang dapat menerima segala keluhan – keluhannya.

  1. Tuliskan dan jelaskan tahapan tingkat perkembangan kognitif anak ditinjau dari sudut pandang psikologis

Jawab :

Ditinjau dari sudut pandang psikologis anak ( intelektual anak), tahap perkembangan kognitif anak terdiri dari empat (4) tahapan , yaitu :

  1. Tahap 1: Periode Sensorimotor (sejak kelahiran sampai usia 2 tahun) dicirikan dengan fase interkoordinasi progresif dari skema menjadi lebih komplek dan terintegrasi. Pada fase pertama, respon-respon bersifat bawaan dan berupa refleks-refleks yang tidak disengaja, seperti misalnya menghisap. Pada fase selanjutnya, skema-skema refleks mulai terkontrol secara sadar. Dengan demikian pada fase ini anak sudah mulai bisa membangun pikirannya tentang bagaimana lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor.
  2. Tahap 2: periode pra-operasional (usia 2-7 tahun), perilaku anak berubah dari depedensi tindakan menuju pemanfaatan representasi mental dalam tindakan-tindakannya atau yang bisa disebut berfikir. Namun anak pada tahap pra-operasional belum mengembangkan sistem organisasi pikiran-pikirannya. Ketika kita berada di sekitar mereka dan mereka tidak melihat kita, mereka tidak berfikir bahwa kita dapat melihat mereka. Ini adalah contoh klasik egosentrisme anak pada tahap ini.
  3. Tahap 3: periode operasional konkret (usia 7-11 tahun) adalah tahap penyempurnaan tiga ranah penting dalam pertumbuhan intelektual, yaitu: konservasi, klasivikasi, dan transivias. Konservasi, ranah pertama, adalah kemampuan untuk mentransformasikan sifat objek. Klasifikasi melibatkan pengelompokan dan kategorisasi objek-objek yang mirip. Transitivitas adalah dua kemampuan yang terpisah namun berhubungan.
  4. Tahap 4 : periode tahap Operasional Formal (12-dewasa)

Sekitar usia 12, anak-anak masuk ke tahap baru lebih tinggi kognisi. Pikiran remaja yang sudah mampu memanipulasi representasi mental yang kompleks. Orang dewasa muda menjadi mampu berpikir dalam abstraksi-menggunakan ide-ide, bukan hanya beton benda-cara yang sebelumnya menghindari pegang mereka. Mereka dapat alasan tentang situasi hipotetis dengan presisi dan realisme.

  1. Tuliskan dan jelaskan enam fase dalam perkembangan moral anak!

Jawab :

Ada enam Fase Moral Menurut Kohlberg :

1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

2. Orientasi minat pribadi

3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas

4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial

5. Orientasi kontrak sosial

6. Prinsip etika universal

Dimana, keenam tingkatan tersebut dibagi kedalam 3 tahapan yaitu :

  1. Tahap Pra – Konvensional

Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung.

  1. Orientasi kepatuhan dan hukuman

Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.
2. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?)

Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

  1. Tahap Konvensional

Pada tahap tiga, orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (sikap anak baik)
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

Pada tahap empat berorientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan). Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

  1. Tahap Pasca – Konvensional

Tahap ke- lima orientasi kontrak sosial, dalam tahap ini, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut – ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak’? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
Prinsip etika universal ( Principled conscience), dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

  1. Kemampuan anak memahami karya sastra juga sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan kemampuan berbahasanya. Menurut anda benarkah itu?

Jawab :

Ya, perkembangan berbahasa anak sangat penting dalam upaya mengembangkan kemampuan apresiasi sastra anak maupun pengalaman bersastra pada anak, karena dengan adanya perkembangan bahasa, seorang anak dapat mengenal dan mengetahui bagaimana bunyi – bunyi kabahasaan, memahami kata – kata , maupun kalimat dari sebuah karya sastra. Karena dengan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan dan memahami bagaimana isi atau makna yang terkandung dalam sutu karya tersebut. Melalui bahasa seorang anak dapat tahu bagaimana simbolis perasaan pengarang atau seorang sastrawan yang tercantum dalam karya sastra yang ia ciptakan. Intinya dengan kemampuan perkembangan bahasalah seorang anak dapat mengapresiasikan apa yang ia rasakan pada suatu karya sastra.

SOAL JAWAB

 

SOAL :

  1. Tuliskan pengertian puisi anak !
  2. Tuliskan hakikat dan karakteristik puisi anak !
  3. Apa yang dimaksud pembacaan puisi sebagai kegiatan reseptif dan produktif ?
  4. Menurut anda, apa perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak ?
  5. Tuliskan ciri-ciri puisi anak !

JAWABAN :

  1. Pengertian puisi anak adalah puisi yang ditulis untuk anak dengan bahasa lugas dan mudah dipahami anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak serta akrab dengan dunia anak-anak
  2. Hakikat dan karakteristik puisi anak adalah puisi anak umumnya masih menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu, kata-kata itu juga dirangkai masih seperti struktur asli kalimat.
  3. Membaca puisi disebut sebagai kegiatan reseptif bila pembaca bermaksud memahami makna dan menikmati keindahan sebuah puisi untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, kegiatan membaca puisi disebut sebagai kegiatan produktif bila pembaca mencoba untuk mengkomunikasikan isi puisi (yang dibaca) kepada sejumlah penikmat yang sebagian besar tidak atau belum akrab dengan puisi tersebut.
  4. Perbedaan antara puisi dewasa, puisi remaja, dan puisi anak adalah puisi anak adalah puisi yang mengacu kepada dunia anak yang berisi tentang kehidupan yang dekat dengan anak seperti dunia bermain, imajinasi yang disesuaikan dengan tingkat pemikiran mereka yang masih sederhana dan bahasa yang digunakan adalah biasanya sederhana dan tidak rumit. Sedangkan puisi remaja dan dewasa hampir sama karena isinya berisi tentang kehidupan yang lebih luas misalnya dunia kerja, dunia kuliah, bahkan dunia malam, karena rasanya tidak etis jika puisi anak berisi tentang kehidupan malam disamping itu bahasa yang digunakan dalam puisi remaja maupun dewasa adalah lazim memakai banyak istilah jika diperlukan yang memperkuat kesan cerita.
  5. Ciri-ciri puisi anak adalah :

ü  Puisi anak adalah puisi yang berisi kegembiraan.

ü  Mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan semangat bermain bahasa.

ü  Harus berupaya memperbaiki ketajaman imajinasi visual dan kata yang dipergunakan mengmbangkan imajinasi, dan melihat serta mendengar kata-kata dalam cara baru.

ü  Menyajikan cerita sederhana dan memperkenalkan tindakan sehari-hari.

ü  Ditulis berdasarkan pengalaman anak.

ü  Berbentuk informasi sederhana yang membuat anak dapat menafsir dan menangkap sesuatu dari puisi itu.

ü  Tema puisi harus menyenangkan anak-anak, menyatakan sesuatu kepada anak, menggelitik egonya, mengingat kebahagiaan, menyentuh kejenakaan dan membangkitkan semangat pribadi anak-anak.

ü  Dapat dibaca anak-anak dan mudah dimengerti.

*~ definisi agama, Tuhan, spiritual, & kepercayaan ~*

BAB 1

PENDAHULUAN

Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatiK, psikologik, dan social.

Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.

Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi

Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.

 

 

 

 

  1. A.     Latar belakang masalah

Agama adalah juga fenomena sosial. Agama juga tak hanya ritual, menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya belaka, tapi juga fenomena di luar kategori pengetahuan akademis. Sebagian manusia mempercayai agama, namun tidak pernah melakukan ritual. Yang lain mengaku tidak beragama, namun percaya sepenuhnya terhadap Tuhannya. Di luar itu semua, kita sering menyaksikan, dalam kondisi tertentu –semisal kesulitan hidup atau tertimpa musibah– manusia cenderung berlari kepada agama. Sebaliknya, pada saat dirinya hidup dalam kondisi normal, mereka seringkali tidak peduli terhadap agama, bahkan mengingkari eksistensi Tuhannya.

Berangkat dari fenomena demikian, psikologi agama merupakan salah satu cara bagaimana melihat praktek-praktek keagamaan.

Sebagai gejala psikologi, agama rupanya cukup memberi pengertian tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan bila dicermati lebih jauh, ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, kita bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan.

  1. B.     Perumusan masalah

Adapun masalah yang akan dibahas didalam ini adalah tentang definisi-definisi dan arti-arti dari psikologi agama, juga bagaimana psikologi agama berperan dalam kehidupan,

Juga bagaimana Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

DEFINISI AGAMA , TUHAN, SPIRITUAL, KEPERCAYAAN

  1. A.     AGAMA dan PSIKOLOGI AGAMA

Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau).

Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird). Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley). Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan.

Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang. Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.

Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.

Menurut Einstein , pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm).

Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang.

Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan.

Menurut Oxford English Dictionary, religion represent the human recognition of super human controlling power, and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship, agama menghadirkan ‘ manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.

Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi.

Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan , tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.

  1. B.     Tuhan/ God/Allah

Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence, I call it God. Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir , manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agama. Fredrick Schleimacher berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Dengan adanya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah, kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan suatu kekuasaan yang berada diluar dirinya, berdasarkan rasa ketergantungan ini timbullah konsep tentang Tuhan.

Mengapa manusia ada yang bersifat Atheis , tidak percaya adanya Tuhan, ucapan terkenal sepanjang masa adalah dari seorang yang bernama Nietscshe yang mengatakan “Gott ist Gestorben” Tuhan sudah mati. Paul Vitz yang menceritakan kisah Nietscshe menyampaikan teori kekafiran Nietsche (theory of unbelief) bukan karena perenungan dan penelitian yang sadar , anda tidak percaya kepada agama bukan karena secara ilmah anda menemukan agma itu hanya sekumpulan tahayul, anda menolak agama bukan karena anda alas an rasional ,melainkan fakto psikologis yang tidak anda sadari, Nietsche menolak Tuhan seperti yang diakuinya bukan karena pemikiran tapi karena naluri.  

Kematian ayahnya diusia 36 tahun membawa kesedihan yang mendalam pada diri Niersche. Tidak berbeda dengan Nietsche , maka Freud menulis dalam future of an Illusion bahwa gagasan-gagasan agama muncul dari kebutuhan yang sama seperti yang memunculkan pencapaian peradaban lainnya , yakni dari desakan untuk mempertahankan diri melawan kekuatan alam yang lebih perkasa dan menaklukkan (kepercayaan agama hanyalah) ilusi, pemuasan dari keinginan manusia yang paling tua, paling kuat, dan yang paling penting seperti yang kita ketahui, kesan tidak berdaya yang menakutkan pada masa anak-anak membangkitkan kebutuhan akan perlindungan melalui cinta yang diberikan oleh sang Bapa jadi peraturan Tuhan yang maha kuasa dan Maha pengasih menentramkan ketakutan kira akan bahaya kehidupan. Secara singkat pada waktu kecil anak mengidola ayahnya sebagai pelindung dan pemelihara , ketika posisi anak tidak berdaya, setelah dewasa ketika manusia berhadap dengan kekuatan yang maha perkasa, ia kembali ingat kepada ayahnya, lalu ia berilusi tentang Tuhan yang seperti ayahnya , untuk memenuhi kebutuhan seorang ayah ia menciptakan Tuhan Bapak, manusia diciptakan tidak berdasar citra Tuhan , tetapi Tuhan diciptakan berdasar citra manusia.

Bagaimana Freud seorang psikoterapi dan seorang atheis berpendapat unsur kejiwaan yang menjadi sumber keagamaan ialah sexual (naluri seksual). Berdasarkan libido ini timbullah idea tentang ketuhanan, upacara keagamaan setelah melalui proses Oedipus Complex (sebuah mythos Yunani yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka Oedipus membunuh ayahnya, sehingga setelah membunuh ayah timbul rasa bersalah (sense of guilt) pada diri anak-anak itu. Father Image (citra bapak) setelah membunuh timbul rasa bersalah yang kemudian perasaan itu menimbulkan ide membuat suatu cara penebusan dengan memuja arwah ayah yang telah mereka bunuh, Realisasi dari pembawaan itulah menurutnya sebagai asal upacara keagamaan. Sigmund freud yakin akan kebenaran pendapatnya itu berdasarkan kebencian setiap agama terhadap dosa.

Seperti Nietscshe , Freud memandang ayahnya sebagai bapak yang lemah, pengecut dan berprilaku sexual yang menyimpang , Ia membenci ayahnya dan selanjutnya membenci Tuhan yang tercipta berdasarkan citra ayahnya, Psikoanalis akhirnya membuang Tuhan sebagai sekadar ilusi kekanak-kanakan, bagi freud agama adalah irasional dan patologi, prilaku yang diperteguh , respons pada situasi yang tak terduga dan pemuasan keinginan kekanak-kanakan.

Freud membagi jiwa dalam 3 bagian yang semuanya punya fungsi sendiri-sendiri: Id adalah tempat dorongan naluri (instinct) dan berada dibawah pengawasan proses primer, id bekerja sesuai prinsip kesenangan. Ego (pribadi) tugasnya menghindari ketidak senangan dan rasa nyeri dengan melawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan seperti represi, salah pindah, rasionalisasi dan lain-lain. Ego mulai terbentuk ketika anak berumur 1 tahun. SuperEgo ajaran dan hukuman yang diletakkan kepadanya oleh orang tua dari luar, dimasukan kedalam superego (internalisasi) yang selanjutnya menilai dam membimbing prilakunya dari dalam, biarpun orang tua tidak ada lagi disampingnya, Superego yang mulai terbentuk umur 5 – 6 tahun membantu ego dalam pengawasan dan pelepasan impuls id, mengadung moral, hatinurani, rasa salah.

  1. C.     Spiritual

Definisi spiritual lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion, dibanding dengan kata religion, para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spitual mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku . kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai faktor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi.

Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.

Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit , sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara, Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama , tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Spiritual dapat merupakan eksperesi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang,dan lebih dari pada hal yang bersifat indrawi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra , perasaan, dan pikiran. Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses , pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan , kedua proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri.

Apakah ada perbedaan antara spiritual dan religius, spiritualitas ádalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang asal , tujuan dan nasib. Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek prilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman , komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) , sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (prilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas . Orang – orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama.

  1. D.    FAITH AND BELIEF

Dalam iman , seorang manusia berkeyakinan bahwa ia berhubungan dengan Allah sendiri, Tuhan sendiri tujuan dan isi iman kepercayaan. . Maka dari itu obyek iman bukanlah pengertian-pengertian, gagasan-gagasan atau ide-ide mengenai Tuhan melainkan Tuhan sendiri. Tuhanlah yang dipercayai manusia, Tuhan dalam kepribadian dan dalam manifestasi-manifestasi-Nya. Antara orang yang beriman dengan Tuhan terdapat hubungan pribadi, bagi orang beriman, Tuhan menjadi tujuan hasrat-hasratnya yang intim , tetapi juga sekaligus penolong yang diandalkannya dalam mengejar kesempurnaan eksistensinya. Oleh karena itu tindakan “percaya “merupakan kenyataan yang kompleks. Didalamnya terdapat keyakinan intelektual, ketaatan yang taqwa dan hubungan cinta kasih. Kompleksitas ini bersesuaian dengan majemuknya faham kebapa ilahi.

Secara Pskologis kita harus membedakan arti kata iman dan percaya. Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu. Misalnya kita percaya besok akan hujan, kepercayaan ini tidak selalu disertai adanya kewajiban terhadap kepercayaan itu Lin dengan iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. Misalnya anda iman kepada Allah ini berarti bukan hanya percaya secara lisan kepadaNya, tapi juga mengandung kesetiaan , kecintaan sebagai implikasi kewajiban kepada si muknin. Kepercayaan bisa menjadi keimanan melalui perkembangan sedikit demi sedikit . Dalam perkembangan ini berperan pengarug orang tua dan lingkungannya. Keimananpun berkembang pula.

  1. E.     Keimanan

W.H. Clark membagi taraf perkembangan keimanan seseorang kedalam 4 level:

  1. Stimulus response verbalism, pada level ini keimanan hanyalah di bibir (anak-anak), mekanismenya disini seperti orang yang belajar, mereka mengulang-ulang perbuatan yang mendapat hadiah dan menghilangkan kata atau perbuatan yang tercela, kata-kata yang menimbulkan rasa aman akan diulang-ulang oleh si anak, dengan demikian timbul rasa aman, kepercayaan yang hanya dibibir akan dikembangkan oleh anak dengan memasukkan kepercayaan itu dalam dirinya, dan ini sangat pendtin untuk menjadi dasar dan sikapnya dan menjadi pegangan hidup.
  2. Intelectual comprehension, Terlihat pada masa remaja, lebih memerlukan intelek dan adanya proses kreatif yang lebih kmpleks dari pada respons bersyarat saja, pikirna dan logika berperan dalam setiap proses keimanan, jiwa mula-mula percaya, timbul kebimbangan, kemudian proses berfikir timbul kepercayaan yang baru atau insight baru sebagai sintesa dari kepercayaan yang ada dan kebimbangan
  3. Behavioral demonstration, Pada level ini sebagai akibat kepercayaan yang kuat akan keimanan seorang terlihat dalam timdakannya. Tingkah laku lebih menunjukan kesungguhan adanya keimanan daripada sekedar ucapan-ucapan saja, behavior demonstraton contoh nya pada sufi/mistikus yang teguh imannya.
  4. Comprehensive integration, Hal-hal yang termasuk ketiga level diatas merupakan penampilan aspek-aspek saja dari pada kepercayaan . Disamping tiu yang lebih dalam ialah yang mencakup ketiga-tiganya menjadi satu kesatuan, baik kata-kata , pemikiran dan juga perbuatan di integrasikan untuk mebentuk satu kesatuan dalam diri individu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi

Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya

Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban

Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)

Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah sesuatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya tidak dapat di bendung : Very personal nature and an irresistible influence, I call it God

Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir , manusia berTuhan karena manusia menggunakan kemapuan berfikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri. Pandangan semacam ini masih tetap mendapatkan tempatnya hingga sekarang ini dimana para ahli mendewakan ratio sebagai satu-satunya motif yang menjadi sumber agamaMenurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas. Melihat asal katanya , untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang

Kata percaya lebih statis dan tidak menunjukan adanya sikap emosi yang positif terhadap obyek atau ide yang dipercayainya itu.

Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Drs H. Ahmad Fauzi , Psikologi Umum Pustaka setia Bandung, 2004

Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan 2004

Dr. Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, penerbit Kanisius,

Davic Fontana, Psychology , Religion and spirituality, Bps Blackwell, 2003

Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu , Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979

Prof Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama , Kalam Mulia 2004

Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung

Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

 

 

 

*~ pembelajaran terpadu ~*

KATA PENGANTAR

 

 
   

 

 

 

Alhamdulillahi Rabbil alamin, Segala Puji bagi Allah dengan pujian yang melimpah, yang baik dan yang didalamnya penuh barakah, selaras dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya, sehingga kami telah berhasil menyusun makalah pembelajaran terpadu yang berjudul “konsep dasar pembelajaran terpadu”.

            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Makalah ini telah banyak sumbangsih yang diterima baik berupa tenaga, motivasi, pikiran dan materi dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian Makalah ini.

Tiada yang sempurna di muka bumi ini, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, apa yang kami sajikan dalam makalah ini sesungguhnya masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa penulis nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Wassalam….

                                                                                               

Makassar,     Mei 2012

                                                                                                           

 

  Kelompok 1

 

 

 

 

 

 

 
 

i

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..              i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………..              ii

BAB I   PENDAHULUAN ………………………………………………………………….             1

             I.1.     Latar Belakang ………………………………………………………………………             1

             I.2.      Rumusan Masalah………………………………………………………………….             2

             I.3.      Tujuan………………………………………………………………………………….             2

BAB II  PEMBAHASAN ……………………………………………………………………             3

           II.1. Pengertian Pembelajaran Terpadu ……………………………………………….             3

           II.2. Karakeristik Pembelajaran Terpadu  ……………………………………………             4

           II.3. Landasan Pembelajaran Terpadu…………………………………………………             5

           II.4. Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu…………………………………………..             7

           II.5. Manfaat Pembelajaran Terpadu…………………………………………………..             7

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………             9

        III.1.     Kesimpulan                ……………………………………………………………..             9

         III.2.     Saran                         ……………………………………………………………..             9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………           10

 

 

 

 

 
 

ii

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      LATAR BELAKANG

Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. PP no. 19 ini memberikan arahan tentang delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) standar proses; (c) standar kompetensi lulusan; (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e) standar sarana dan prasarana; (f) standar pengelolaan; (g) standar pembiayaan; dan (h) standar penilaian pendidikan.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk taman kanak-kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas awal sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat penting untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, agar pembelajaran di kelas tidak monoton, menyenangkan serta bermakna bagi kehidupan peserta didik.

  1. B.      RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
  2. Sebutkan karakterisik dari pembelajaran terpadu?
  3. Sebutkan landasan-landasan dari pembelajaran terpadu?
  4. Bagaimanakah prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu?
  5. Apakah manfaat dari pembelajaran terpadu?

C.    Tujuan Penulisan

Dari uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan pengertian pembelajaran terpadu.
  2. Untuk mendeskripsikan karakterisik dari pembelajaran terpadu.
  3. Untuk menidentifikasi landasan-landasan dari pembelajaran terpadu.
  4. Untuk menidentifikasi prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu.
  5. Untuk menguraikan manfaat dari  pembelajaran terpadu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

BAB II

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TERPADU

  1. A.      PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat dua istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang saling terkait dan ketergantungan satu sama lain, yaitu integrated curriculum (kurikulum terpadu) dan integrated learning ( pembelajaran terpadu). Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, keterampilan, dan sikap (Wolfinger, 1994: 133). Rasional pemaduan itu antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kebanyakan masalah dan pengalaman (termasuk pengalaman belajar) bersifat interdisipliner, sehingga untuk memahami, mempelajari, dan memecahkannya diperlukan multi-skill.
  2. Adanya tuntunan interaksi kolaboratif yang tinggi dalam memecahkan berbagai masalah.
  3. Memudahkan anak membuat hubungan antarskemata dan transfer pemahaman antarkonteks.
  4. Demi efisiensi.
  5. Adanya tuntunan keterlibatan anak yang tinggi dalam proses pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut di atas, pembelajaran terpadu banyak dipengaruhi oleh eksplorasi topik yang ada di dalam kurikulum sehingga anak dapat belajar menghubungkan proses da nisi pembelajaran sastra lintas disiplin dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulumterpadu dan pembelajaran terpadu terletak pada segi perencanaan dan pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran terpadu seharusnya bertolak dari kurikulum terpadu, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa banyak kurikulum yang memisahkan mata pelajaran satu dengan lainnya menuntut pembelajaran yang sifatnya terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkan (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai:

  1. Suatu pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak,
  2. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan),
  3. Merakit dan menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik yang berasal dari mata pelajaran yang bersangkutan maupun dari mata pelajaran yang lainnya.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi Gestalt, termasuk teori piget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.

  1. B.      KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TERPADU

Penerapan pendekatan terpadu disekolah dasar bisa disebut sebagai suatu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama dalam rangka mengurangi gejala penjejalan isi kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Penjejalan isi kurikulum tersebut dikhawatirkan akan mengganggu perkembangan anak, karena terlalu banyak menuntut anak untuk mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka.

Terdapat beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran terpadu, yaitu:

  1. 1.       Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa (student centered),
  2. 2.       Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences),
  3. 3.       Dalam pembelajaran terpadu pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
  4. 4.       Pembelajaran terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses mata pelajaran,
  5. 5.       Pembelajaran terpadu bersifat luwes,
  6. 6.       Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

 

Adapun kelebihan  dari pembelajaran terpadu, yaitu :

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan siswa.
  2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi siswa sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir siswa.
  5. Menyajikan kegiatan-kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dengan lingkungannya.
  6. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial siswa seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain.

Selain beberapakekuatan atau kelebihan di atas,  penerapan pembelajaran terpadu di sekolah dasar memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaanya, diantaranya :

  1. Kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa dalam kurikulum sekolah dasar tahun 1994 masih terpisah-pisah ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang ada.
  2. Semua pelaksanaan pembelajaran terpadu dibutuhkan sarana dan prasarana belajar yang memadai untuk mencapai kompetensi dasar secara optimal.
  3. Belum semua guru sekolah dasar memahami konsep pembelajaran terpadu ini secara utuh, bahkan ada kecenderungan yang menjadi kendala utama dalam pelaksanaannya.

 

  1. C.      LANDASAN PEMBELAJARAN TERPADU

Dalam setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar, guru harus mempertimbangkan banyak factor. Selain karena pembelajaran itu pada dasarnya merupakan implementasi dari kurikulum yang berlaku, juga selalu membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan atas hasil-hasil pemikiran yang mendalam.

Landasan-landasan yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam pelaksanaanpembelajaran terpadu di sekolah dasar meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis.

  1. 1.       Landasan Filosofis

 

Secara filosofis, kemunculan pembelajaran terpadu sangat dipengaruhi oleh tiga alitan filsafat berikut:

  1. Aliran Progresivisme, beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya ditekankan pada (1) pembentuykan kreativitas, (2) pemberian sejumlah kegiatan, (3) suasana yang alamiah, dan (4) memperhatikan pengalaman siswa.
  2. Aliran konstruktivisme, melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran.
  3. Aliran Humanisme, melihat siswa dari segi: (1) keunikan, (2) potensinya, dan (3) motivasi yang dimiliki.

 

  1. 2.       Landasan psikologis

Pandangan psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri.
  2. Pikiran seseorang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan yang ada,
  3. Siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang.
  4. Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh.

 

  1. 3.       Landasan Praktis

Landasan praktis yang digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah:

  1. Pengetahuan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
  2. Hampir semua pelajaran di sekolah diberika secara terpisah satu bsama lain, padahal seharusnya saling terkait.
  3. Permasalahan yang muncul cenderung bersifgat lintas mata pelajaran sehinnga diperlukan usaha kolaboratif.
  4. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa akan mampu berpikir teiritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.

 

Dengan memahami berbagai landasan diatas, mudah-mudahan kita semakin meyakini akan pentingnya pelaksanaan pembelajaran terpadu di sekolah dasar kita masing-masing.

  1. D.      PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terpadu sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tema-tema, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Tema hendaknya tidak terlalu luas,
  2. Tema harus bermakna,
  3. Tema harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa,
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa,
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar,
  6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat,
  7. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Guru hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi single actor yang mendominasi aktovitas dalam proses pembelajaran,
  2. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok,
  3. Guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran.

Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu, perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self-evaluation) di samping bentuk penilaian lainnya,
  2. Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan atau kompetensi yang telah disepakati.

 

  1. E.       MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU

Di bawaha ini di uraikan beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain :

  1. Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi penghematan karena tumpang-tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan,
  2. Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat dari pada tujuan akhir itu sendiri,
  3. Pembelajaran terpadu dapat meningkatkan taraf kecakapan berpikir siswa.
  4. Kemungkinan pembelajaran yang terpotong-potong sedikit sekali terjadi,
  5. Pembelajaran terpadu memberikan terapan-terapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer pembelajaran,
  6. Dengan pemaduan pembelajaran antarmata pelajaran diharapkan penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat,
  7. Pengalaman belajar antarmata pelajaran sangat positif untuk membentuk pendekatan menyeluruh pembelajaran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,
  8. Motivasi belajar dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam pembelajaran antarmata pelajaran,
  9. Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetahuan awal siswa yang dapat menjembatani pemahaman yang terkait,
  10. Melalui pembelajaran terpadu terhadi kerjasama yang lebih meningkat antara para guru, para siswa, guru-siswa dan siswa-orang/nara sumber lain.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.      KESIMPULAN

Dunia pendidikan sekarang ini semakin maju, dengan menggunakan metode-metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dua istilah yang digunakan di sini adalah kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu yang keduanya secara konsepsi berbeda dari segi perencanaan dan pelaksanaannya, namun secara ideal keduanya saling berhubungan. Pembelajaran terpadu sebaiknya bertolak dari kurikulum terpadu.

Pembelajaran terpadu sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan aktivitas berpikir dalam merancang butir-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik maupun pemahaman dan keterampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran yang utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain, pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa secara simultan.

Pembelajaran terpadu dilandasi oleh landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis. Landasan filosofis mencakup progresivisme, konstruksivisme, dan humanism. Landasan psikologis mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Landasan praktis dilandasi prinsip-prinsip dunia pengetahuan, pemberian pelajaran di sekolah secara terpisah, kolaborasi antara teori dan praktek.

 

  1. B.      SARAN

Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Resmini, Novi dkk. 2008. Pembelajaran Terpadu di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Indrawati. 2009. Model pembelajaran terpadu di sekolah dasar. Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

Sutrisno, Ary. 2010. http://www.docstoc.com/docs/KONSEP-PEMBELTERPADU  (diakses pada tanggal 02 mei 2012).